Kamis, 23 Oktober 2008

Credo Nicea / Syahadat Nicea

Untuk Bahan renungan teman teman Kristen, mudahan mudahan anda sekalian hafal dengan Syahadat Nicea.. Berikut ini saya kutipkan kembali ringkasan dari keimanan Kristen yang mestinya kalian imani. Berbeda dengan Islam yang cukup dengan 2 kalimat sudah mewakili keimanan umat Islam.



Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa,

factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan

Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal,

Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang.

Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa

per quem omnia facta sunt.
segala sesuatu dijadikan olehnya.

Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita.

Et incarnatus est de Spiritu Sancto
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus

ex Maria virgine et homo factus est.
dari Perawan Maria dan menjadi manusia.

Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus

passus et sepultus est.
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.

Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci.

et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa

Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati;

cuius regni non erit finis.
KerajaanNya takkan berakhir.

Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan;

qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)*

Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan.

qui locutus est per prophetas.
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi

Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katholik* dan apostolik.

Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.

Et expecto resurrectionem mortuorum,
Aku menantikan kebangkitan orang mati,

et vitam venturi saeculi. Amen.
dan kehidupan di akhirat. Amin.



Bila terlalu panjang.. pilihlah yang pendek saja :
"Asyhadu 'alla ilaha illallah wa Asyhadu 'anna muhammadarrasulullah"
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Aliran Aliran Kristen

Ortodok Syiria
Muncul dari perselisihan antara Gereia Alexandria dan Gereja Roma danKaisar Konstantin (puncaknya pada masa kaisar Bizantium Marqilanus 450 458 M). yang pada Konsili (Majma’ Khalkadunia) Calcedon; inti pembicaraan ialah masalah ketuhanan (45 1), dan umat Kristen pun terpecah dua. Satu berpusat di Roma dan Bizantium (mereka mengakui bahwa AI Masih memiliki dua sifat: Tuhan dan Manusia). Aliran ini dipimpin oleh Baba Laon (440-461 M), sementara yang lain berpusat di Alexandria dan Antiokia dengan pimpinan Baba Disqures I (444 454 M) yang berprinsip bahwa AI Masih bersifat Tunggal.

Aliran pertama, menganggap Al Masih sekaligus bersifat Tuhan dan sekaligus menyandang sifat manusia, mereka dikenal dengan Kristen Katolik. Kelompok Ortodoks tidak berpendapat demikian, dan menganggap alirannya­ yang paling benar serta pewaris Al Masih (Mereka terdiri dari thaifah thoifah, seperti Koptik, Syrian, Amenian, Habasyah. Menurut tokoh mereka (disebut : Abuna Robbuha) Iskandar Somad, pemim­­pin Syria ortodoks di Mesir yang sekali­gus sebagai peng­asuh kanisah : Al Adzro Maryam, bahwa antara Koptik dan ­Syrian adalah sau­dara kandung, karena memiliki kesamaan akidah.

Ortodoks Syria me­rasa punya bukti bahwa Injil pertama berbahasa Syria dan baru diterjemahkan ke bahasa Arab pada tahun 643 ( pada waktu, itu Gubernur Syria dijabat oleh Umar bin Abi Waqash; adiknya Sa’ad bin Abi Waqash yang beragama Islam).

Ortodoks Syria
Ortodoks memiliki shalat 7 kali sehari ( ketika sibuk, shalat dapat dikerjakan hanya pada Fajar pagi dan saat tenggelam matahari, sore; jika masih tak mungkin, maka cukup pada hari Minggu saja). Shalat dimulai dengan berdiri tegak lurus, dipimpin oleh seorang Imam yang berpakaian jubah warna hitam. Kedua tangan mereka di dada, kemudian membuat tanda salib sembari mengucapkan: Bismi Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus Allahu Wahid; dan jamaah menyambutnya dengan : Amin. “ Lalu Imam melanjutkan dengan doa sembari mengangkat kedua tangan yang disahuti oleh makmum: Amin” Kemudian, setelah membuat tanda salib berikutnya, Imarn pun terus membungkuk (bagaikan posisi ruku’ dalam Islam) dengan mengucapkan kata kata :” Quddusun anta Yaa Allah !”, jamaat pun menyambut dengan kata yang mensucikan Allah, Maha Kuasa dan tidak berkematian. Jamaah memohon kasih savang Allah vang telah disalibkan sebagai pengganti umat manusia”, kemudian Imam pun berdiri lagi dan seterusnva Imam sujud yang diikuti jamaah. Ketika bangun sujud, Imam berucap : Subhaanaka Allaahumma (Maha Suci Engkau Ya Tuhan), dan jamaah pun menyambut secara bersamaan, sembari menadahkan kedua tangannya. Kemudian Imam membaca doa robbaniyah (Doa Bapa kami dalam bahasa Arab Syria, lalu diikuti Imam membaca sedikit ayat ayat dalarn zabur dalam bahasa Aramik), lalu shalat pun berakhir.

Mereka juga mengenal puasa seperti pantang menyantap makanan yang berunsur hewan, minyak dan susu. Puasa dapat dikerjakan pada setiap Rabu dan Jumat, kecuali antara hari kebangkitan Al Masih dengan hari Pentakosta; bahkan pada kedua hari di atas, puasa dilarang. Mereka juga mengenal cerai, namun Gereja yang menetapkan bukan catatan Sipil. Kaum wanita seharusnya ke Gereja dengan jilbab Hitam, namun situasi merobah­nya. Mereka memasuki Gereja tanpa sepatu, dianjurkan berkhitan dan pernimpin pria memakai jenggot.

Sekte “Nasrani”
Dalam kehidupan agama “samawiyah”, umumnya orang tidak terlalu acuh mem­beda­kan antara penganut Kristen dengan Penganut Nasrani; pada hal setiap ‘nama’ membawa arti atau maksud tersendiri. Dalarn Al Quran, kata kata “Kristen” tidak diketemukan, tetapi kata “Nasrani” sangat banyak dan (waktu turun ayat ini) maksudnya ditujukan kepada Bani Israil (pengikut Isa) yang pada waktu itu banyak diketemukan di sekitar kota Madinah. Kata “Nashaara” tertulis pada 14 tempat ( Al Baqarah 62, 111, 113, 130, 135, 140; Al Maaidah 14, 18, 51, 69, 82. At Taubah 30 dan Al Haj 13; sementara kata “Nash raaniyyaan” pada Ali Imran 72).

Sebenarnva bagi orang Yahudi, kata “Nasrani” sudah dikenal sejak mereka menolak kedatangan (Yesus sebagai Mesias) ; mereka sebut “Sekte Nasrani”.(lihat Kisah 24 : 5), sebutan berikutnya oleh kaum muslimin di Madinah, saat Islam berkembang dan penduduk Madinah tengah bertetangga dengan kaum Yahudi dan orang orang Nasrani ( AI Maa idah 82).

Dalam Kitab Perjanjian Baru sendiri sebutan untuk “Pengikut Isa”, yaitu “Penganut Jalan Tuhan’ (Kisah 24 : 14, 22), “Kristen” (Kisah 11 : 26, 26 : 28; 1 Petrus 4 : 16) dan sebutan “Nasrani” (Kisah 24: 5).

Karena Istilah
Istilah “Nasrani” dimungkinkan, karena Isa atau Yesus itu lahir di “Nazaret”.; karena perkembangan bahasa, menjadilah “Nasrani”. Sebelumnya memang ada salah satu sekte penganut mistik gnostik orang orang dari Mandae yang diikuti oleh orang­-orang Yahudi. Tak mustahil penganut “ sekte Nasrani” ini ada juga orang Yahudi

Nah kelompok sekte Gnostik di Mandae ini menamakan diri dengan sebutan “Natsorayya” (yang terambil dari akar kata : Nazar, yang dalam bahasa Syria disebut “natsar”; logat Aram-Syria, kata “Z” ditulis “s”, artinya men”jaga”) tetapi dipelesetkan dan dilecehkan. Mereka sangat sinkretis, karena mencampuradukkannya dengan paham “gnostik”, kemudian mereka campurkan juga dengan ajaran Yesus pada waktunya. Dalam perjalanan ajaran Kristen, terdapat juga perbedaan antara Paulus Yakobus, walau sama sama mempercayai Kristus Yesus; kesannya pihak Yakobus sangat mirip dengan Sekte Nasran dari kelompok Mandea. Mereka rajin memelihara Taurat dan biasa ber”nazar” pula. (Kisah 21 : 18-23).

Padahal, menurut Kristen Paulus (sekarang ini), bahwa Yesus dan para Rasul tidak lagi memegang Taurat, (seperti Taurat dalam agarna Yahudi), tetapi memakai Taurat Perjanjian Lama yang telah diperbaharui menjadi “Injil Perjanjian Baru” yang membawa manusia kepada iman, kebenaran dan kasih; artinya Taurat dalam bentuk “hukum kasih”.

Kini di Indonesia telah terdengar tentang adanya kelompok yang hanya mau disebut “Nasrani” saja dan tidak mau disebut “Kristiani”. Mereka menyebut diri atau kelompoknya “ Yeshua ha Maschiah, Kristen yang Yudaisme, misinya mengajak manusia kernbali kepada hukurn Taurat; di antara mereka ialah Suradi ben Abraham alias SYBAI. Mereka menerbitkan “KITAB SUCI TORAT dan INJIL 2000” yang di dalamnya semua kata “Allah” sudah diganti dengan Eloim; termasuk kata Yahwe, El, Eloah, Adonai dan El Shaddai: bahkan mengandung kelucuan ialah diluamya “Torat dan Injil” tetapi di dalamnya meliputi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan kesan lain ialah, Kitab Suci yang mereka terbitkan itu bukanlah kajian mereka sendiri tetapi mereka “jiplak” dari terjemahan ahli pada “LAI” (Menariknya, satu di antara sekian para Penginjil dan seorang Muallaf yang kini giat dibidang pengembangan Kristologi dengan menyebut kelompoknya “Kristologi Islami”, ia menuding “Kristen yang benar ialah Kristen yang berpaham “Nasrani”, katanya “Sesuai Al Quran. Aneh aneh saja??

Kelahiran Yesus.
Yesus “Kristus” dalam Kristen, saat dekat sebutannya dengan “Krisna” dalam Hindu. Menurut kitab Atharva Veda, yang muncul di India sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, bahwa pada masa itu raja Kansa yang berhati busuk tengah berkuasa di negeri Madura, sementara ia sendiri banyak dikuasai oleh isterinya yang bernama, Nysumba, seorang ahli sihir yang berpengaruh. Nysumba sendiri adalah anak Kalaveni, pemuja dewi Kali, Dewi Kerinduan dan Kernatian. Suatu malam, karena tak dapat tidur, Kansa berdiri di teras istananya, tiba tiba ia melihat sesuatu kekuatan gaib. Ia melihat sebuah bintang bergerak dan sinarnya jatuh ke bumi.

Lalu raja Kansa bertanya kepada Nysumba, isterinya, namun isterinya tak mampu mene­rangkan apa maksud bintang yang dilihatnya. Kansapun memanggil pendeta pendeta Hindu (Brahmana), dan merekapun menerangkan bahwa itulah cahaya kebenaran, dan itulah pertanda Tuhan turun ke bumi, ke dalam tubuh manusia yang dikandung oleh Devanaki, anak dari saudara perempuan baginda raja sendiri, bernama Parvady. Nah, anak yang dikandung itulah yang akan menjadi Tuhan di dunia, alias raja dunia. *(Nah kita kisah ini kita hubungkan dengan kisah Injil Matius 2 : 2 10, cerita tentang bintang jatuh dan dilihat oleh orang Majusi, lalu mereka datang ke Yerusalem mencari Tuhan lewat cahaya bintang itu “Dimanakah raja Yahudi yang baru lahir itu ? Karena kami sudah melihat bintangnya di sebelah Timur, maka kami datang kemari hendak menyembah Dia. , maka kesannya menjadi klop, bahwa Kelahiran Kristus Yesus sama dengan kisah Krisna dengan bintangnya yang juga jatuh ke bumi).

Yesus bangkit dari kubur
Cerita kebangkitan “Penyaliban Yesus dan kebangkitannya dari kubur, sebagai lambang mengalahkan maut”, seperti ditulis oleh Injil (Yahya 19 : 17 42; Matius 27 dan 28; Markus 15 dan 16 dan Injil Lukas 23 dan 24) sangat mirip dengan cerita alias mythologi Mesir dengan dewa dewinya (Isis, Atis, Osiris). Ensiklopedi Umum, terbitan Kanisius 1990,” Mesir mempunyai dewi alam yang pemujaannya berjalan sejak 1700 110 sebelum Masehi; dewi yang berpengaruh diseputar Lautan Tengah. Isis Jalam mythologi Mesir adalah seorang isteri yang setia dan saudara perempuannya bernama Osiris, dan ibunya, Horns.

Setelah Osiris dibunuh oleh saudara lala laki mereka, Set, dan badannya yang terpotong potong dan berkeping keping itu berhasil dikumpulkan kembali oleh Isis. Lalu Osiris sembih kembali, hidup lagi dan berhasil mengalahkan maut. Untuk Mesir, Osiris dilambangkan sebagai matahari; Set yang bertindak sebagai penindas alias pengkhianat, dilambangkan sebagai malam; Horns dilambangkan sebagai matahari baru dan yang muncul dari sebelah timur, yaitu Isis. Pemujaan mereka berpusat di Memphis, Abydos dan Philae; kepercayaan ini sempat berpengaruh hingga tahun 500 M. Nah, jika dihubungkan dengan kepercayaan Kristen tentang penderitaan Yesus di salib dan kebangkitannya kembali dari tengah tengah orang mati dan berhasil mengalahkan maut, kesannya mirip dengan mythologi Mesir dan kepercayaan rakyat di seputar Lautan Tengah di zaman zaman sebelum Yesus.

Kematian Yesus
Cerita kematian Yesus mirip dengan kematian Budha. Dalam Injil Matius 27 : 50 52 menceritakan saat saat kematian Yesus dan tertulis :” Maka berserulah Yesus dengan suara besar, lalu Ia menyerahkan Rohny. Maka sekonyong konyong tirai di dalam Bait Allah cariklah terbelah dua, dari atas sampai ke bawah; dan bumi pun gempa, dan batu­-batu gunungpun terbelah belah. Kubur kuburpun terbuka, dan beberapa mayat orang suci yang sudah wqfat bangkit pula, dan keluarlah dari kuburnya, maka kemudian daripada itu kebangkitan Yesus. “ Sejalan dengan Injil Matius, Lukas 23 : 44 45 menulis, “Adalah kira kira pukul duabelas tengah hari gelaplah seluruh tanah itu hingga pukul tiga petang. Maka cahqya matahari pun hilanglah; dan tirai Bait Allah cariklah terbelah dua Maka berserulah Yesus dengan suara besar, ke dalam tanganMu Aku serahkan Rohku. Setelah dikatakannya demikian, maka putuslah nyawanya”.

Ada kemiripan saat saat kematian Budha (yang lahir pada 547 sebelum masehi, terlepas dari apakah paham Hinayana ataukah Mahayana) dengan saat saat kematian Yesus. Disebutkan saat saat Budha (yang inkarnasi Tuhan itu wafat), terjadilah gempa bumi, meteor berjatuhan, gerhana matahari dengan suara guntur bersahutan di langit (*Th. J. Plange: Christus ein Inder ? hal. 206).

Sama dan beda
Kalau dalam Kristen, Yesus adalah Tuhan Bapa yang menjelma menjadi manusia, dan kelak Yesus vang jelmaan Tuhan Bapa di sorga itu akan turun lagi ke bumi, memerintah bumi selama 4000 tahun dengan damai. *(Dalam Budha Mahayana, selain Budha sendiri dianggap dewa. Iman Mahayana berbunyi:” Budha pertama (Adhi Budha) berupa sumber segala makhluk; atas kehendak Budha sendiri, Budha Pertama akan menjelma dalam lima dhyani Budha yang tetap tinggal di sorga. Dhyani Budha, masing masing mempunyai Budha manusia. Budha Gautama akan menjadi seorang diantara Budha Budha tersebut. Sementara Budha Maitreya dinyatakan Budha yang akan turun ke bumi kelak sesudah Budha Gautama. Sedang antara keberangkatan dan kedatangan, Budha manusia, maka sebagai Penolong Budha dhyani yang bertanggung jawab. Mengirim Bodysatva ke dunia. Karena itu ada tiga gembala yang bertanggung jawab, yaitu : Dhiyani Budha Amitabha, Dhyani Bodhisatva Avalokitocawa dan Budha manusia Budha Gautama.

Misi dan posisi Yesus

Kristen mempunyai 4 (empat) Injil yang kanonik; tiga disebut Injil Sinoptik, karena saling melengkapi. Injil Yahya isinya berbeda sendiri, mungkin sangat kental Hellenist-Yudais nya. Seperti Yahya 1:1 12, disebutkan: “Maka pada awal pertama ialah Kalam, dan Kalam itu bersama sama dengan Allah, dan Kalam itulah juga Allah. Adalah ia pada mulanya beserta dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan olehnya, maka jikalau tidak ada Ia, tiadalah juga barang sesuatu yang telah terjadi ... Maka Kalam itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita, penuh dengan anugerah dan kebenaran.

Dalam Kristen, Kalam itu ialah Firman, sementara dalam Islam Kalam atau Firman itu ialah Wakyu Allah yang kenyataannya berupa Kitab Suci. Dalam Kristen, Firman atau Kalam itu menjadi Yesus, yang biasa disebut Injil berjalan. Dalam mythologi Yunani, Firman itu ialah “logos”, dan logos itulah yesus; Yesus ialah Anak Tuhan alias Tuhan yang menjadi manusia dalam bentuk sosok tubuh Yesus.

Kata Arius (seorang Uskup dari Alexandria); “ Tak mungkin Yesus itu dapat disebut setengah Allah”. “Apabila kita percaya akan satu Allah, tentu Yesus Allah juga atau Ia bukan Allah, melainkan makhluk biasa”. Demikian Arius mengajarkan, “bahwa Anak atau Logos itu adalah makhluk Tuhan yang sulung dan yang tertinggi derjatnya. Ia bukan dari kekal adanya, tetapi dijadikan di dalam batas batas zaman.

a. Athanasius (Juga dari Alexandria) berpendirian beda. Menurut Athanasius “Bahwa Anak Allah alias logos itu bukan suatu makhluk, bukan juga setengah Allah atau Allah yang kedua, tetapi Ia satu zat dengan Bapak dalam segala-galanya. Ketika Anak itu masuk ke dunia ini, Allah sendiri yang datang menyelamatkan manusia.”

b. Akhirnya Konsili Necea, yakni Konsili Oikumenes (325 M), yang dihadiri oleh 250 300 Uskup) di Necea itu (yang sengaja untuk memecahkan persoalan theologia), bahwa nisbah Bapak dan Anak” yang pecah sejak kepergian Yesus. Konsili dipimpin oleh Kaisar Konstantin, Kaisar Roma.

c. Akhirnya Arius dikalahkan, theologianya dilarang dan ia dibuang. Hasil Konsili dengan rumusan “Bahwa logos atau Anak ‘homo usious’ dengan Bapa diterima oleh Konsili”.?

Sumber Majalah Tabligh

Kebangkitan Yudas (4/4)

Dalam beberapa artikel yang lalu, telah kita kaji tentang orang yang disalib dan dibunuh. Dari Bible sendiri, bukti-bukti secara kontekstual yang menyatakan Yudaslah orang yang disalib dan dibunuh ternyata jumlahnya cukup banyak, mulai ayat-ayat yang mengisahkan saat-saat beberapa hari sebelum penangkapan, saat penangkapan, saat diadili hingga saat penyaliban, semua memberikan gambaran bahwa Yudaslah orang yang dinubu-atkan Yesus sebagai orang yang terbesar, ditangkap, diadili dan disalib.

Bila yang disalib adalah Yudas, maka harus dapat dibuktikan bahwa orang yang selama ini dianggap bangkit dari kematian pastilah bukan Yesus tetapi Yudas. Dalam kajian kali ini kita akan membuktikan memang Yudaslah orang yang dianggap bangkit dari kematian.

Memang, bagi siapa saja yang membaca Alkitab kanonik -yang diterima oleh gereja- tanpa sikap kritis, maka ia akan tergiring kepada suatu pemahaman bahwa Yesus telah dibangkitkan dari kematian. Hal itu wajar saja, karena memang itulah yang ingin disampaikan oleh para penulis Injil.

Namun, bila pembaca Injil mau memberikan sikap kritis terhadap kisah-kisah yang disajikan oleh para penulis Injil, tentu akan menjumpai banyak kontradiksi antara penulis Injil yang satu dengan penulis Injil yang lainnya, dimana kontradiksi-kontradiksi tersebut bukan disebabkan adanya sudut pandang atau latarbelakang yang berbeda dari penulis Injil dalam menyajikan sebuah kisah, tetapi lebih disebabkan adanya subyektivitas penulisnya atau karena ketidaksempurnaan dan ketidakakuratan penulis yang menyebabkan kisah-kisah yang mereka susun tidak mempresentasikan fakta yang sesungguhnya.

Kajian ini akan membuktikan bahwa Yesus yang dianggap dibangkitkan dari kematian ternyata adalah Yudas, namun bukan dari kematian, tetapi dari pingsan yang disebabkan rasa sakit ketika disalib dan ditombak perutnya.

Pada bagian awal kita akan menampilkan ayat-ayat tentang kebangkitan yang saling kontradiktif antara narasi penulis Injil yang satu dengan narasi penulis Injil yang lainnya, kemudian kita akan membuktikan kebangkitan Yudas.



Kisah-Kisah Yang Berbeda

Alkitab mengisahkan bahwa pada Minggu pagi, ada wanita-wanita yang berziarah ke ku-bur Yesus, ke-4 Injil tidak sama dalam mengi-sahkan nama-nama orang yang berziarah :

Injil Matius 28:1 : Maria Magdalena dan Maria yang lain
Injil Markus 16:2 : Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus dan Salome
Injil Lukas 24:10 : Maria dari Magdala, Maria Ibu Yakobus, dan Yohana.
Injil Yohanes 20:1 : Maria Magdalena

Markus kontradiksi dengan Lukas perihal nama wanita ketiga, menurut Markus adalah Salome dan menurut Lukas adalah Yohana. Sementara Matius dan Yohanes berbeda dalam hal jumlah wanita yang berziarah. Walaupun perbedaan di atas tidak merubah pesan yang ingin disampaikan, namun perbedaan tersebut telah menunjukkan bahwa para penulis Injil ti-dak akurat bahkan bisa disebut salah dalam mendokumentasikan kisah tersebut.

Masih dalam kisah yang sama, ke-4 Injil berbeda dalam melaporkan waktu ziarah ke kubur Yesus :

Injil Matius 28:1 : Menjelang menyingsingnya fajar.
Injil Markus 16:1 : Setelah matahari terbit.
Injil Lukas 24:1 : Pagi pagi benar.
Injil Yohanes 20:1 : Pagi-pagi benar ketika hari masih gelap.

Di sini nampak adanya kontradiksi, terutama Markus yang mengisahkan waktu berziarah setelah matahari terbit, yang kontradiktif dengan laporan Matius dan Yohanes, sementara laporan Lukas dapat ditafsirkan sebelum atau sesudah matahari terbit. Menilai empat laporan di atas benar semua adalah tidak mungkin, pasti ada yang salah bahkan bisa semua salah, Logikanya, kalau Markus bisa salah, maka Matius, Lukas dan Yohanes juga bisa salah. Kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa narasi para penulis Injil tidak didasari oleh data yang akurat, tetapi hanya oleh perkiraan/persangkaan belaka, atau berdasarkan cerita dari mulut ke mulut tanpa memperhatikan sumbernya.

Ke-4 Injil juga berbeda dalam melaporkan jumlah Malaikat yang disaksikan oleh wanita-wanita yang berziarah :

Injil Matius 28:2 : Seorang Maliakat.
Injil Markus 16:5 : Seorang muda.
Injil Lukas 24:4 : Dua orang.
Injil Yohanes 20:12 : Dua orang Malaikat.

Matius dan Markus melaporkan, hanya ada satu Malaikat yang disaksikan oleh wanita-wanita yang berziarah, namun Lukas dan Yohanes melaporkan ada dua. Perbedaan tersebut juga merupakan contoh bahwa informasi yang dimiliki oleh para penulis Injil tidak akurat bahkan bisa jadi salah.

Dalam kisah yang lain, Matius melaporkan bahwa kuburan Yesus dijaga oleh tentara-tentara yang dikirim Pilatus atas permintaan Imam-imam Yahudi, tetapi Markus, Lukas dan Yohanes tidak melaporkan sama sekali. Padahal laporan adanya penjaga-penjaga kuburan mempunyai kedudukan yang sangat penting karena berhubungan dengan berita bohong tentang pencurian mayat Yesus.

Perbedaan-perbedaan tersebut di atas bisa terjadi karena :
Para penulis Injil dalam menulis Injilnya hanya berdasarkan pemahamannya saja.

Para penulis Injil mempunyai keterbatasan dalam melaporkan pemahamannya.

Para penulis Injil telah mendapatkan data yang tidak sesuai dengan faktanya bahkan bisa jadi salah total.

Para penulis Injil menganggap bahwa ada kisah yang perlu disampaikan juga ada yang tidak perlu untuk disampaikan. Sehingga bisa jadi di satu Injil tertulis sebuah kisah sementara di Injil yang lainnya tidak ada.

Para penulis telah mengarang sebuah kisah yang sama sekali tidak ada faktanya.

Ke-5 kemungkinan di atas, sudah cukup untuk mempertanyakan keabsahan perihal kisah kebangkitan yang diarahkan sebagai kebangkitan Yesus, juga ditambah adanya dalil kuat yang secara kontekstual menunjukkan bahwa Yudaslah orang yang disalib. Maka pada paragraf-paragraf berikutnya akan dikaji setiap narasi dari para penulis Injil dan dialog-dialog antara orang yang dibangkitkan dengan para murid-murid Yesus, untuk mengetahui Yesus atau Yudas yang dibangkitkan.




MURID-MURID TIDAK PERCAYA

Ke-4 Injil sepakat dalam meriwayatkan murid-murid Yesus yang tidak percaya ketika mendapat berita bahwa Yesus telah bangkit dari kematian -hidup kembali-.

Injil Matius 28:16 : beberapa orang ragu-ragu.
Injil Markus 16:11 : mereka tidak percaya.
Injil Lukas 24:10 : mereka tidak percaya
Injil Yohanes 20:1 : aku tidak akan percaya.

Padahal, menurut tradisi ke-Kristen-an, Yesus adalah anak Tuhan bahkan diyakini sebagai Tuhan itu sendiri, dan masih menurut tradisi ke-Kristen-an, Tuhan Yesus telah mati, tetapi tidak satupun ayat yang menjelaskan ada murid Yesus yang tidak percaya. Adalah aneh bila mereka tidak percaya ketika menerima kabar Yesus telah bangkit dari kematian. Bukankah mempercayai Yesus telah mati akan jauh lebih sulit daripada mempercayai Yesus telah bangkit dari kematian ?, Keanehan tersebut semakin kental kadarnya bila dihubungkan dengan narasi Matius yang menyatakan bahwa imam-imam Yahudi pernah mendengar Yesus berkata ‘Sesudah tiga hari Aku akan bangkit’. Matius 27:63.

Tentu saja nubuat yang menyatakan bahwa Yesus akan bangkit pada hari ketiga, akan menjadikan murid-muridnya mempersiapkan segala sesuatunya dan menunggu hari kebangkitannya, dan bila Yesus telah bangkit pada hari yang ketiga pastilah murid-murid tidak akan ada yang tidak percaya, karena mereka telah me-ngetahui sebelumnya.

Sulit bagi kita untuk mempercayai riwayat yang menyatakan murid-murid Yerus tidak percaya ketika mendapat kabar Yesus telah bangkit dari kematian. Seperti seorang polisi, yang tentu tidak akan percaya terhadap keterangan seseorang yang nampak rancu dan tidak selaras dengan keterangan-keterangan lainnya, pastilah ada sesuatu yang tersembunyi.

Lalu, apa sebenarnya yang telah membuat murid-murid Yesus tidak percaya ?, investigasi terhadap ayat-ayat tentang kebangkitan Yesus sangat menarik untuk mengetahui kebenaran tersembunyi. Untuk itu mari kita kutip kisah selengkapnya pada salah satu narasi penulis Injil berikut.

Pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, Maria Magdalenada pergi ke kubur orang yang disalib, dia terkejut karena batu penutup kubur telah terbuka, kemudian dia lari dan bertemu dengan Petrus. Petrus langsung pergi ke kubur orang yang disalib dan hanya mendapatkan kain kapan di tempat orang yang disalib dibaringkan. Lalu pulanglah Petrus sementara Maria tetap berdiri didekat kubur sambil menangis, setelah itu ia menjenguk ke dalam kubur. Lalu ia mendapatkan orang yang disalib berdiri dibelakangnya dan berkata kepada dirinya :
"Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa seka-rang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu." Injil Yohanes 20:17

Kata-kata ‘janganlah negkau memegang aku’ menunjukkan bahwa orang yang berkata tubuhnya masih merasakan sakit bekas penyaliban, dan kata-kata ‘aku belum pergi kepada bapa’ sangat mungkin dia belum mati, tetapi selama ini dia hanya pingsan karena rasa sakit yang amat sangat akibat penyaliban dan tusukan tombak diperutnya.

Setelah itu Maria menyampaikan apa yang dialaminya kepada murid-murid Yesus, namun mereka menganggap semua itu hanyalah sebagai omong kosong – Mereka tidak percaya-.

Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Injil Lukas 24:11

Sikap para murid-murid Yesus inilah yang sulit untuk diterima akal sehat, padahal Injil mengisahkan secara implisit murid-murid telah tahu bahwa Yesus pernah mengatakan akan bangkit dari antara orang yang mati, dan menurut nubuat dalam Perjanjian Lama, katanya Yesus akan bangkit dari kematian. Adalah mustahil bila kemudian mereka mengatakan OMONG KOSONG terhadap berita kebangkitan Yesus, pastilah bukan berita kebangkitan Yesus yang membuat mereka sangat tidak percaya dan mengatakan OMONG KOSONG. Tetapi sangat mungkin mereka tidak percaya bila disampaikan berita bahwa orang yang disalib adalah Yudas, karena selama ini mereka menyangka Yesuslah orang yang disalib.


Ketika hari sudah malam pada hari itu juga, murid-murid Yesus berkumpul di suatu tempat dengan pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi, lalu datanglah orang yang disalib dan bangkit :

"Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Injil Yohanes 20:19-20

Kepada murid-murid Yesus, orang tersebut memberikan bukti luka tusukan paku di tangannya bekas penyaliban dan tusukan tombak pada perutnya, Yohanes memberikan narasi dalam Injilnya bahwa orang tersebut adalah Yesus dan sikapnya menunjukkan tangan dan perut yang luka menurut narasi Yohanes adalah untuk membuktikan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.

Adalah aneh, bila Yesus menunjukkan luka tangan dan perutnya untuk membukti-kan bahwa dia telah bangkit dari kematian, kalau memang untuk membuktikan Yesus telah bangkit dari kematian, maka kehadiran Yesus di hadapan mereka sudah cukup sebagai bukti bahwa Yesus telah hidup lagi?.

Menunjukkan luka di tangan dan perut, bukanlah bukti-bukti sebab kebangkitan, tetapi lebih ke arah untuk membuktikan bah-wa luka di tangan dan peut adalah bekas pe-nyaliban dan tusukan tombak, jadi orang yang berdiri dihadapan murid-murid Yesus sebetulnya ingin membuktikan bahwa dirinya-lah yang disalib. Dan hal berarti, bahwa orang tersebut bukan Yesus, karena kalau orang itu Yesus, pastilah tidak perlu membuktikan bahwa dirinyalah yang disalib.

Setelah orang tersebut membuktikan bahwa dirinya yang disalib dengan menunjukkan luka tusukan paku di tangan dan luka di perut ketika penyaliban, maka murid-murid Yesus menjadi percaya. Tetapi salah seorang murid Yesus tidak hadir dalam pertemuan tersebut, sehingga tidak percaya ketika murid-murid Yesus yang telah percaya menyampaikan berita bahwa Yudaslah orang yang disalib.

Murid tersebut adalah Tomas, ia tidak akan percaya sebelum membuktikannya sendiri :

"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Injil Yohanes 20:25

Wajar saja kalau Tomas tidak percaya kalau dikatakan orang yang disalib adalah Yudas Iskariot, sehingga dia ingin membuktikan sendiri benarkah orang yang telah disalib adalah Yudas dengan mengecek secara langsung benarkah ada bekas tusukan paku di tangan dan bekas tusukan tombak di perut pada diri Yudas ?.

Delapan hari kemudian, murid-muird Yesus termasuk Tomas berkumpul di rumah yang sama dengan pertemuan sebelumnya, kemudian datanglah Yudas menemui mereka, dan berkata kepada Tomas :

"Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Injil Yohanes 20:27

Setelah Tomas membuktikannya sendiri, barulah dia percaya bahwa orang yang disalib adalah Yudas Iskariot.

Sikap Tomas tersebut membuktikan bahwa ketidak-percayaan murid-murid Yesus bukan karena mendapat kabar Yesus telah bangkit lagi, tetapi karena mendapat kabar bahwa Yudaslah orang yang disalib. Setelah mereka melihat Yudas secara langsung dan melihat ada bekas tusukan paku di tangan dan bekas tusukan tombak di perutnya, barulah mereka percaya.

Satu bukti lagi, bahwa orang yang disalib dan kemudian dikubur adalah Yudas adalah, Ibu Yesus sama sekali tidak pernah berziarah ke kubur.

Sekian kajian tentang kebangkitan yang ternyata sebagai kebangkitan Yudas. Semoga bisa menambah keyakinan dan keimanan kita sebagai seorang muslim akan kebenaran Islam. Insya-Allah, lain waktu akan kita buktikan secara medis bahwa Yudas hanya pingsan karena rasa sakit. (al-islahonline.com)

Yesus tidak DiSalib (3/4)

Al-Qur’an secara umum menyatakan, bahwa murid-murid nabi Isa as, (Hawariyyin) adalah orang-orang yang sholeh, setia dan beriman. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hatim yang diterima dari Ibnu Abbas dikisahkan, bahwa ketika nabi Isa as sudah mengetahui akan keingkaran kaum Israel dan ingin membunuhnya, nabi Isa u menawarkan kepada murid-muridnya untuk diserupakan dengan dirinya, maka tampillah salah seorang yang paling muda menyatakan kesediaanya. Seingga secara implisit –tersamar- orang yang diserupakan dengan nabi Isa as adalah orang yang rela berkorban demi menyelamatkan gurunya, umat Islam tentu sepakat bahwa orang yang diserupakan dengan nabi Isa as adalah orang yang kemudian dibunuh dan disalib.

Sementara itu Bible mengisahkan bahwa Yesus memberikan informasi kepada murid-muridnya perihal salah seorang dari antara mereka yang akan menyerahkan dirinya, kemudian para murid-murid Yesus mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka sebagai respons atas informasi Yesus tersebut, menyaksikan perbincangan siapa yang terbesar di antara murid-muridnya, Yesus memberikan petunjuk, bahwa orang yang terbesar diantara mereka adalah yang paling muda, dalam kisah yang lain, Yesus terharu akan orang tersebut.

Ada keserasian antara kisah al-Qur’an, al-Hadits dan Bible yaitu, pertama, al-Qur’an dan al-Hadits mengisahkan bahwa salah seorang dari murid nabi Isa as bersedia untuk diserupakan dengan nabi Isa as, sementara Bible mengisahkan bahwa Yesus memberikan informasi salah seorang muridnya akan menyerahkan dirinya dan hal itu membuat Yesus sangat terharu, bukankah salah satu sebab yang membuat seseorang sangat terharu adalah pengorbanan demi dirinya?. Kedua, al-Qur’an, al-Hadits dan Bible sama-sama sepakat bahwa orang yang telah menjadi fokus pembicaran adalah yang termuda dari antara murid-muridnya. Umat Kristiani tentu sepakat bahwa orang itu adalah Yudas, jadi dengan demikian Yudaslah yang diserupakan, dibunuh dan disalib.

Selanjutnya bible mengisahkan, ketika orang-orang Yahudi dan sepasukan tentara telah berhasil mengepung Yesus dan murid-muridnya, Yesus bertanya kepada mereka ‘siapa yang kalian cari’, mereka menjawab ‘Yesus dari Nazaret’, Yesus menjawab ‘akulah dia’, sesaat setelah itu, orang-orang Yahudi dan pasukannya mundur dan terjatuh ke tanah. Bible sama sekali tidak menyinggung penyebab dan maksud hingga mereka mundur dan terjatuh ke tanah, padahal mundur hingga terjatuh pastilah bukan kejadian biasa, pasti ada sesuatu yang luar biasa, karena sebelum dan sesudah mereka mundur hingga terjatuh, mereka menghadapi Yesus biasa-biasa saja.

Dalam al-Hadits yang diriwayatkan Abi Hatim dari Ibnu Abbas, sesaat sebelum penangkapan, terjadilah proses penyerupaan dari wajah Yudas menyerupai wajah Yesus dan sebaliknya. Sangat mungkin apa yang dikisahkan Bible mereka mundur dan terjatuh ke tanah adalah saat proses penyerupaan wajah Yudas ke wajah Yesus dan sebaliknya, sehingga mereka tidak mengetahui proses tersebut, atau saat mereka mundur dan terjatuh ke tanah adalah saat penggenapan dari nubuat yang disampaikan Yesus bahwa salah seorang muridnya akan membuatnya sangat terharu, dan satu alasan yang paling mungkin yang membuat Yesus sangat terharu adalah karena pengorbanan muridnya tersebut, umat Kristiani tentu sepakat bahwa orang yang dinubuatkan Yesus tersebut yang membuatnya sangat terharu adalah Yudas Iskariot, jadi secara kontekstual, Yudas sebenarnya adalah seseorang yang berkorban demi Yesus, dan bentuk pengorbanan itu sangat mungkin seperti yang diinformasikan al-Hadits yaitu penyerupaan wajah Yudas ke wajah Yesus yang menjadikan Yudas ditangkap untuk menggantikan Yesus.

Setelah itu orang-orang Yahudi membawa Yudas yang dikiranya Yesus untuk diadili dan ditentukan nasibnya. Petrus salah seorang murid Yesus mengikuti Yudas dari kejauhan, sesampainya di tempat Yudas diadili, Petrus menunggu dari luar memperhatikan jalannya sidang dan menunggu putusan nasib atas Yudas tersebut.

Ketika Petrus sedang menunggu, datanglah orang-orang Yahudi kepada Petrus dan mendakwa Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dan sebagai murid Yesus orang yang sedang diadili, namun Petrus menyangka dakwaan tersebut, karena Petrus yakin bahwa orang yang sedang diadili bukanlah Yesus.

Kisah selanjutnya, orang yang diadili tersebut diserahkan kepada penguasa setempat yaitu Pontius Pilatus untuk diadili, dan Pontius Pilatus akhirnya memutuskan untuk menyalib Yesus yang sesungguhnya adalah Yudas. Umat Kristiani tentu sepakat bahwa orang yang disalib adalah orang yang sebelumnya diadili dan orang yang disangkal oleh Petrus, dan orang itu adalah orang yang ditangkap di taman Getsemani, berdasarkan argumentasi sebelumnya, bahwa yang ditangkap, diadili oleh orang-orang Yahudi dan disangkal oleh Petrus adalah Yudas, maka orang yang disalib dengan sendirinya adalah Yudas Iskariot yang telah diserupakan dengan Yesus.


IBU, ITU ANAK IBU
Sebetulnya, dari kisah pra penyaliban tersebut di atas, sudah cukup untuk membuktikan bahwa bukan Yesus yang disalib, melainkan Yudas Iskariot yang bersedia diserupakan de-ngan Yesus, namun, sangat menarik untuk menggali bukti bahwa yang disalib adalah Yudas Iskariot bukan Yesus, dari sisi saat-saat penyaliban itu sendiri.

Ketika Yudas Iskariot telah disalib, datanglah Ibu Yesus untuk menyaksikan orang yang disalib. Kemudian ibu Yesus berdiri dekat tiang salib, Yudas Iskariot yang disalib me-lihat Ibu Yesus dan salah seorang murid yang dikasihi Yesus berdiri disamping ibu Yesus, kemudian Yudas berkata kepada ibu Yesus :

“Ibu, itu anak Ibu”

dan berkata kepada murid yang dikasihi Yesus yang ada disamping Ibu Yesus :

“Itu Ibumu”

Perkataan Yudas tersebut sepertinya untuk menunjukkan kepada ibu Yesus bahwa anaknya adalah yang ada di sampingnya, bukan dirinya yang sedang disalib. Adalah wajar bila ibu Yesus mengira orang yang disalib adalah anaknya, karena memang orang yang disalib berwajah Yesus. Karena alasan itulah Yudas memberitahu kepada ibu Yesus ‘ibu, itulah anakmu’, dan berkata kepada orang yang di samping ibu Yesus ‘Itu Ibumu’, perkataan Yudas kepada kedua orang tersebut, seakan-akan ingin menyentuh dari sisi bathiniah bahwa antara keduanya terdapat ikatan yaitu antara ibu dan anak.

Sekarang mari kita kutip kisah selengkapnya tentang perkataan orang yang disalib tersebut dalam Alkitab bahasa Indonesia sehari-hari :

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan pengikut yang dikasihi-Nya berdiri di situ, Ia berkata kepada ibu-Nya, "Ibu, itu anak Ibu." Kemudian Yesus berkata kepada pengikut-Nya itu, "Itu ibumu." Semenjak itu pengikut itu menerima ibu Yesus untuk tinggal di rumahnya. Injil Yohanes 19:26-27

Kata-kata yang bergaris bawah adalah ucapan orang yang disalib, dan kata-kata yang tidak bergaris bawah adalah komentar atau narasi dari penulis Injil –Yohanes-, penulis berusaha menggiring pembacanya agar meyakini bahwa orang yang disalib adalah Yesus, namun, narasi tersebut menjadikan ucapan orang yang disalib tampak janggal, karena kata-kata ‘ibu, itu anak ibu’ berarti yang mengatakan bukan anaknya.

Dalam Alkitab terjemahan lama, ucapan orang yang disalib berbunyi sebagai berikut :

"Hai perempuan, tengoklah anakmu"

Perkataan semacam itu, tidak mungkin keluar dari mulut seorang anak kepada ibunya, kalimat seru ‘hai perempuan’ menunjukkan bahwa yang menyeru bukanlah anak dari orang yang diseru, berarti orang yang disalib bukanlah anak dari ibu Yesus, dan itu berarti orang yang disalib bukanlah Yesus.

Kalimat seru ‘hai perempuan’, terasa sangat kasar dan menjadikan orang yang diseru bisa terperanjat dan bertanya-tanya, apakah mungkin anaknya berkata seperti itu, kasar dan seperti orang lain ?, Namun sepertinya Yudas memang menginginkan ibu Yesus segera berpikir dan percaya bahwa orang yang disalib bukanlah anaknya, tetapi anaknya adalah yang ada di sampingnya, hal itu ditunjukan oleh Yudas dengan ucapan selanjutnya ‘tengoklah anakmu’, dan kepada pengikut Yesus yang ada disamping ibu itu Yudas berkata ‘tengoklah ibu-mu’, ucapan Yudas ini akan menjadikan Ibu Yesus mengok kepada pemuda yang ada disampingnya dan menjadikan pemuda yang di sampingnya menengok kepada ibu Yesus, maka selanjutnya yang akan terjadi adalah naluri seorang ibu akan mengetahui bahwa pemuda yang ada di sampingnya adalah Yesus anak-nya. Fragmen tersebut di atas sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa orang yang disalib bukanlah Yesus.

Sekarang mari kita kutip ucapan orang yang disalib dari berbagai versi Alkitab :

King James Version : KJV : ‘Woman, behold thy son’

Cotemporary English Version : "This man is now your son."

Alkitab today’s Englis Version : "He is your son."

Alkitab Terjemahan Dunia Baru : "Wanita, lihatlah Putramu!"

Alkitab Sunda : "Ibu, eta teh putra ibu!"

Alkitab Jawa : "Ibu, menika ingkang Putra."

Tidak satupun kutipan ucapan orang yang disalib dari berbagai versi Alkitab di atas me-nunjuk bahwa dirinya adalah anak ibu Yesus, bahkan lebih tegas orang yang disalib mengatakan bahwa orang yang ada di samping ibu Yesus itulah yang sebagai anaknya.

Namun di dalam Alkitab Terjemahan Baru yang diterbitkan LAI –Lembaga Alkitab Indonesia- kata ‘itulah’ telah berubah menjadi ‘inilah’, seperti kutipan berikut :

‘Ibu, Inilah anakmu’

Tentu saja perubahan itu telah mengubah makna secara radikal, bila yang diucapkan orang yang disalib ‘Ibu, itulah anak ibu’ maka artinya orang yang disalib bukanlah Yesus, tetapi bila yang diucapkan ‘Ibu, inilah anakmu’ berarti orang yang disalib adalah Yesus. Tentu saja perubahan tersebut telah menjadikan para pembaca Alkitab tergiring dalam satu pemahaman bahwa yang disalib adalah Yesus, namun bagi siapa saja yang kritis perubahan itu justru melahirkan sebuah keraguan, untuk apa Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah Yesus, bukankah kalau memang benar bahwa yang disalib adalah Yesus, Ibu Yesus pasti mengenali?


KISAH DALAM AL-QUR’AN
dan karena ucapan mereka:
"Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah",
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesung-guhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. QS. 4:157

Al-Qur’an sama sekali tidak menyangkal adanya penyaliban, al-Qur’an menyatakan bahwa yang dibunuh dan disalib adalah seseorang yang diserupakan dengan nabi Isa as yaitu Yudas.

Al-Qur’an lebih jauh menyatakan, bahwa mereka dalam keragu-raguan tentang orang yang disalib, mereka tidak yakin bahwa yang disalib adalah nabi Isa as, mereka hanya mengikuti persangkaan belaka.

Setelah kita kaji ucapan orang yang disalib, telah cukup membuktikan apa yang dinyatakan al-Qur’an bahwa mereka dalam keragu-raguan terhadap orang yang disalib. Kalau mau secara jujur menafsirkan apa yang diucapkan oleh orang yang disalib, tentulah akan timbul pertanyaan, apa mungkin orang yang disalib itu Yesus, mengapa dia mengatakan bahwa anak dari Ibu Yesus adalah yang disamping ibu Yesus, bukan orang yang disalib, mengapa orang yang disalib menyatakan ‘hai perempuan’ kepada ibu Yesus kalau orang yang menyatakan itu adalah anak dari ibu Yesus ?

Perubahan dari ‘Ibu, itulah anakmu’ menjadi ‘Ibu, inilah anakmu’, juga membuktikan bahwa sebenarnya mereka dalam keragu-raguan terhadap orang yang dibunuh dan disalib, kalau mereka sudah yakin mengapa harus mengubah-ubah apa yang diucapakan orang yang disalib ?.


SEJARAH MEMBUKTIKAN
Pada abad-abad petama -s/d110 M-, telah banyak aliran-aliran dalam agama Kristen, setiap aliran mempunyai versi kitab dan keyakinan yang berbeda dengan aliran yang lain. Salah satu contoh, ada sebuah aliran yang meyakini bahwa penyaliban Yesus merupakan ilusi belaka. Ignatius, uskup Antiokia menyerang mati-matian aliran tersebut, Ignatius merasa kuatir terhadap perkembangan aliran Kristen yang meyakini penyaliban Yesus hanyalah ilusi . Serangan dan kekuatiran Ignatius membuktikan bahwa aliran tersebut berkembang sangat luas dan kuat, artinya, pada masa-masa Kristen awal banyak yang meyakini penyaliban Yesus adalah ilusi.

Iganatius dalam bukunya ‘Trallians’ menulis :
‘Namun jika, seperti yang dikatakan sebagian orang …penderitaannya hanyalah penampakan/ilusi, maka mengapa aku dipenjara, dan mengapa aku harus melakukan perjuangan panjang melawan hewan-hewan liar? Jika memang demikian, aku hanya mati sia-sia’

Tulisan Ignatius tersebut membuktikan, betapa kuat keyakinan orang-orang yang meyakini penyaliban Yesus hanya merupakan ilusi, sehingga Ignatius harus mati-matian melawan mereka hinga dipenjara dan mati karenanya.

Bukti sejarah tersebut telah menguatkan apa yang dikatakan al-Qur’an, bahwa bukan nabi Isa as yang disalib dan dibunuh, tetapi orang yang diserupakan dengan beliau, sekaligus membuktikan bahwa mereka ragu-ragu tentang orang yang disalib dan dibunuh.

Sampai di sini dulu kajian tentang penyaliban, semoga, kajian ini dapat bermanfaat bagi kita dan semakin mempertebal keimanan kita. Amin. (al-islahonline.com)

Petrus Bukan Pengecut (2/4)

Pada artikel sebelumnya dengan judul ‘Yudas Bukan Pengkhianat’ telah kita kutip teks-teks Al-Qur’an yang menyatakan bahwa secara umum murid-murid nabi Isa as -Hawariyyin- adalah orang-orang yang beriman, taat dan setia kepada nabi Isa as, dan dari sebuah Hadits yang kita kutip menunjukkan bahwa orang yang kemudian ditangkap dan disalib adalah salah seorang murid nabi Isa as yang dengan kerelaannya bersedia untuk diserupakan dengan nabi Isa as, sehingga dari al-Qur’an dan al-Hadits kita memperoleh kesimpulan bahwa orang yang dibunuh dan disalib bukanlah nabi Isa as dan bukan pula seorang pengkhianat. Dan dari penelusuran teks-teks Bible sendiri, yaitu sebuah kitab yang diimani oleh umat Kristiani yang meyakini bahwa Yudas adalah seorang pengkhianat, ternyata banyak ayat yang secara implisit –tersamar– menyatakan bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat, namun seorang yang disebut Yesus sebagai seorang yang terbesar/termulia dari antara ke-12 murid-muridnya, dan secara implisit pula kita dapatkan dari Bible bahwa kemudian Yudas diserupakan dengan Yesus ketika orang-orang yang akan menangkap Yesus terjatuh ke tanah, sehingga tidak menyaksikan proses penyerupaan Yudas ke Yesus. Sehingga mereka menyangka bahwa orang yang mereka tangkap adalah Yesus Kristus, padahal sesungguhnya adalah Yudas Iskariot yang telah diserupakan dengan Yesus.

Pada artikel tersebut telah terbukti bahwa orang yang ditangkap adalah Yudas Iskariot, dan pada kajian ini, kita akan membuktikan juga bahwa orang yang ditangkap adalah Yudas Iskariot, namun dari sisi yang lain, kalau pada kesempatan yang lalu kita membuktikan dari sisi fragmen saat-saat menjelang pengepungan dan menjelang penangkapan, kali ini kita akan membuktikan dari sisi setelah proses penangkapan dan pengadilan atas orang yang ditangkap. Ternyata murid Yesus yang lain yang bernama Petrus mengetahui bahwa orang yang telah ditangkap dan sedang di adili oleh orang-orang Yahudi bukanlah Yesus melainkan temannya yaitu Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus, sehingga Petrus menyangkal kalau dikatakan orang yang telah ditangkap dan sedang diadili adalah Yesus Kristus gurunya.

Petrus adalah salah seorang dari 12 orang murid Yesus yang selalu setia menemani dan mengikuti ajaran Yesus, Petrus adalah orang yang paling berani dalam membela Yesus. Ketika orang-orang Yahudi bersama sejumlah pasukan mengepung Yesus dan murid-muridnya, Petrus dengan heroiknya tampil ke depan tanpa rasa takut sedikitpun menghadapi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak. Konon Petrus dengan pedangnya berhasil memotong telinga salah seorang dari pasukan yang bernama Malchus, namun Yesus yang telah mengetahui kekuatan musuh jauh lebih besar dan mengeta-hui perlawanan tidak akan menghasilkan ke-menangan sedikitpun, seketika itu juga Yesus menghentikan perlawanan Petrus.

Yang perlu dicatat dalam kisah di atas adalah keberanian Petrus menghadapi orang-orang yang ingin menangkap Yesus yang jumlahnya jauh lebih banyak, sikap semacam itu adalah sikap orang yang teguh iman, tidak takut mati, rela berkorban jiwa, pendek kata sikap sema-cam itu adalah sikap seorang kesatria. Hal semacam itu adalah hal biasa dimiliki bagi seorang yang mempunyai prinsip dan ideologi, se-perti halnya dalam Islam, para sahabat utama yang rela mengorbankan harta dan jiwa demi Islam dan nabi Muhammad saw, begitu juga dengan hawariyyin seperti Petrus adalah wajar bila dia menjadi kesatria untuk membela Ye-sus-gurunya, apalagi 12 murid Yesus adalah orang-orang pilihan Yesus sendiri yang diambil dari 12 suku Israel.

Namun Bible juga mengisahkan, konon Petrus menyangkal pernah bersama-sama dengan Yesus, menyangkal mengenal Yesus dan menyangkal sebagai murid Yesus, menurut Bible, secara implisit penyangkalan tersebut dilakukan Petrus hanyalah untuk menghindari agar dirinya tidak ikut ditangkap bersama-sama Yesus atau dengan kata lain Petrus takut untuk ditangkap. Kisah tersebut tentu saja melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik akal sehat, apakah mungkin Petrus yang heroik dan tidak takut mati hanya dalam beberapa jam saja, tiba-tiba menjadi seorang pengecut yang takut ditangkap dan takut mati, apakah Yesus telah salah memilih orang untuk dijadikan muridnya ataukah Yesus telah gagal membangun keimanan bagi murid-muirdnya. Untuk dapat menjawab semua itu, perlu diselidiki dan dikaji apa makna dan motif sesungguhnya dari penyangkalan Petrus tersebut.


LINTASAN KISAH
Sebelum kita mengkaji makna dan motif penyangkalan Petrus, marilah kita lihat lintasan kisah yang melatar-belakanginya.

Ketika orang-orang Yahudi dan sepasukan prajurit berhasil mengepung Yesus dan murid-muridnya, tampilah Petrus melawan mereka untuk membela dan menyelamatkan Yesus. Dalam sekejap salah seorang dari mereka terpotong telinganya oleh pedang Petrus, namun melihat kekuatan musuh yang jauh lebih besar dan melihat perlawanan Petrus tidak akan berarti apa-apa, maka Yesus menghentikan perlawanan Petrus tersebut.

Lalu Yesus tampil ke depan berkata kepada orang-orang yang ingin menagkapnya :

"Siapakah yang kamu cari?" Tanya Yesus
"Yesus dari Nazaret" Jawab pasukan
"Akulah Dia" Kata Yesus menegaskan.

Dan sesaat setelah itu mereka mundur hingga terjatuh ke tanah. Tentu bukan tanpa sebab hingga mereka mundur dan terjatuh ke tanah, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya, penyebab itulah yang oleh para penulis Injil tidak disampaikan dalam tulisan Injilnya.

Dalam artikel yang lalu juga, telah kita bahas bahwa saat-saat itulah saat terjadinya proses perubahan wajah Yudas yang menyerupai wajah Yesus, karena mereka terjatuh ke tanah, maka mereka tidak menyaksikan proses tersebut perubahan tersebut, inilah rencana Allah SWT untuk menyelamatkan Yesus.

Dan setelah itu, Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus berkata kepada mereka yang ingin menangkap Yesus :

"Siapakah yang kamu cari?" Tanya Yudas yang berwajah Yesus.
"Yesus dari Nazaret." Jawab pasukan
"Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi" Tegas Yudas yang berwajah Yesus.

Maka orang-orang Yahudi itupun menangkap Yudas yang dikiranya Yesus dan membawanya kepada imam-imam Yahudi untuk diadili. Sementara itu Petrus mengikuti dari kejauhan untuk mengetahui nasib yang akan terjadi pada orang yang ditangkap, sepertinya Petrus mengetahui bahwa bukan Yesus yang ditang-kap oleh mereka tetapi seseorang yang diseru-pakan dengan Yesus.

Namun, umat Kristiani meyakini bahwa orang yang ditangkap adalah Yesus bukan Yudas, karena ayat-ayat dalam Bible secara tekstual memang menyatakan demikian. Tetapi keyakinan tersebut sangat lemah, karena banyak mengabaikan kejanggalan-kejanggalan kontekstualnya, yang pada kesempatan yang lalu (artikel Yudas bukan penghianat) telah membuktikan secara kontekstual bahwa Yesus dan murid-muridnya sama sekali tidak membicarakan seorang pengkhianat, tetapi seorang yang terbesar dari anatara ke-12 murid-murid, dan umat Kristiani tentu sepakat bahwa orang yang di-maksud Yesus adalah Yudas Iskariot, dan itu berarti Yudas bukanlah seorang pengkhianat.

Kembali lagi pada kisah Petrus, Petrus terus mengikuti Yudas yang ditangkap orang-orang Yahudi untuk diserahkan kepada imam-imam Yahudi, sesampainya mereka di bait Allah tempat Yudas akan disidang, Petrus berhenti dan menunggu dari luar untuk mengetahui nasib Yudas selanjutnya.

Ketika Petrus sedang menunggu jalannya sidang, datanglah orang-orang Yahudi kepada Petrus, dan sepertinya mereka mengenali Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus dan sebagai murid Yesus. Disinilah terjadi dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus, dalam dialog tersebut orang-orang Yahudi mendakwa Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, dan mendakwa Petrus sebagai murid orang yang sedang diadili, namun Petrus menyangkal semua dakwaan tersebut, Petrus tidak mengakui selalu bersama-sama, mengenal dan sebagai murid orang yang sedang disidang. Penyangkalan-penyangkalan Perus itulah yang diyakini oleh Umat Kristiani sebagai penyangkalan terhadapa Yesus. Sekarang mari kita lihat dialog selengkapnya.


FRAGMEN PENYANGKALAN
Berikut kutipan dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus :

Injil Matius 26:69-74, Injil Markus 14:67-71
Injil Lukas 22:56-60 , Injil Yohanes 18-25-28

Yahudi 1 : Engkau juga selalu bersama-sama dengan ...Yesus, orang Galilea itu.

Petrus : Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.

Yahudi 2 : Orang ini bersama-sama dengan Yesus, …orang Nazaret itu.

Petrus : Aku tidak kenal orang itu.

Yahudi 3 : Pasti engkau juga salah seorang dari…. ....mereka, itu nyata dari bahasamu.

Petrus : Aku tidak kenal orang itu.


Kata itu dalam fragmen di atas adalah sebagai kata ganti yang menunjuk kepada seseorang yang sedang diadili. Ketika orang-orang Yahudi berkata kepada Petrus ‘Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu’, orang-orang Yahudi tersebut mendakwa bahwa Petrus adalah orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, yang menurut orang Yahudi tersebut orang yang sedang diadili adalah Yesus. Terhadap dakwaan tersebut, Petrus menyangkal dengan mengatakan ‘Aku tidak tahu apa yang engkau maksud’. Jawaban Petrus tersebut menunjukkan bahwa dia tidak dapat memahami bila dikatakan orang yang sedang diadili adalah Yesus dan tidak dapat mengerti bila dikatakan dia selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili. Jawaban Petrus tersebut mempunyai dua kemungkinan : pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan Yesus, dan itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus. kedua, Petrus menyangkal bila dikatakan orang yang sedang diadili adalah Yesus, sehingga dia juga menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan orang tersebut.

Dalam dakwaan berikutnya yaitu yang kedua dan ketiga, Petrus didakwa ‘Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu’, Petrus secara konsisten berturut-turut menyangkal ‘Aku tidak kenal orang itu.’, Jawaban Petrus tersebut juga mempunyai dua kemungkinan, pertama, Petrus menyangkal kenal dengan Yesus, hal itu berarti orang yang sedang disidang adalah Yesus, yang kedua, Petrus hanya menyangkal kenal dengan orang yang disidang, hal itu berarti bukan Yesus orang yang sedang disidang.

Dalam Injil Yohanes 18:25 dakwaannya berbunyi ‘Bukankah engkau juga seorang muridnya?’. Dalam dakwaan tersebut, kata nya yang bergaris bawah adalah sebagai kata ganti orang yang menunjuk kepada orang yang sedang diadili. Terhadap dakwaan tersebut Petrus menyangkal ‘Aku bukan muridnya’ yang mempunyai dua kemungkinan juga, pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan sebagai murid Yesus, hal itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus, kedua, Petrus hanya menyangkal bila dikatakan murid dari orang yang sedang diadili, hal itu berarti bukan Yesus orang yang sedang diadili.


YESUS ATAU YUDAS
Sekarang mari kita uji dua kemungkinan di atas, siapa sebenarnya yang sedang disangkal oleh Petrus, apakah Yesus ataukah orang lain yang diserupakan dengan Yesus.

Bila kita mengasumsikan orang yang sedang disidang adalah Yesus, maka berarti orang yang disangkal oleh Petrus adalah Yesus. Asumsi tersebut melahirkan pertanyaan yang mendasar, mungkinkah Petrus tidak mau mengakui mengenal dan selalu bersa-masama dengan Yesus dan tidak mengakui sebagai murid Yesus ?. Lalu apa motif Petrus melakukan itu semua ?.

Asumsi di atas, telah memberikan label pengecut, pembohong, munafik, dan tidak teguh iman kepada Petrus. Disebut pengecut dan pembohong, karena Petrus adalah benar-benar murid Yesus dan orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus, disebut munafik dan tidak teguh iman karena Petrus beberapa jam sebelumnya telah menjadi seorang yang sangat heroik dalam membela Yesus.

Ditinjau dari motif yang melatarbelakanginya, maka tidak ada satu motifpun yang mendorong Petrus untuk menjadi seorang pengecut, apakah Petrus takut ditangkap hingga harus menyangkal segala dakwaan orang-orang Yahudi ?, tentu saja tidak, kalau orang-orang Yahudi ingin menangkap murid-murid Yesus ju-ga, tentu mereka sudah menangkapnya ketika mereka mengepung Yesus dan murid-muridnya ditaman Getsemani, tetapi kenyataannya tidak, mereka membiarkan murid-murid Yesus pergi.

Menyebut Petrus sebagai pengecut, secara tidak langsung telah memberikan label kepada Yesus sebagai orang yang tidak teliti dan gagal, gagal membangun keimanan Petrus sehingga menjadi seorang pengecut, pembohong, munafik dan tidak teguh iman, dan tidak teliti karena telah salah memilih orang yang akan diberi pelimpahan kepemimpinan selanjutnya :

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yohanes 21:17

Tentu saja semua itu tidak mungkin, sejarah telah membuktikan bahwa Petruslah yang kemudian memegang kepemimpinan. Mustahil Petrus menjadi seorang pengecut, menyangkal gurunya yang sangat dikasihinya.

Bila bukan Yesus yang diadili, lalu siapa yang disangkal Petrus ?, tentu semua orang Kristen yang gemar membaca Bible akan dapat menjawab, bahwa orang yang diadili adalah orang yang ditangkap di taman Getsemani yang selanjutnya disalib. Memberikan nama Yudas sebagai orang yang diadili ternyata selaras dengan keseluruhan konteks ayat, selaras bahwa Yesus secara kontekstual menyebut Yudas sebagai orang yang terbesar dan bukan pengecut, Yudas telah membuat Yesus sangat terharu, kenapa Yesus terharu?, karena Yudas akan menggantikan Yesus untuk ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Dan selaras dengan sifat Petrus yang pemberani, heroik dan sebagai seorang pengganti kepemimpinan Yesus. Dengan demikian yang disalib adalah Yudas. wallahu'alam (al-islahonline.com)

Yudas Bukan Penghianat (1/4)

Berikut ini kupasan artikeltuk "perayaan umat kristiani" pada tanggal 14 April,kami kutipkan Kupasan/Kajian yang bersumber dari situs saudara kembar kami http://www.al-islahonline.com/ yang akan menyajikan 4 (empat) bahasan tentang kisah penyaliban yang oleh umat kristiani diyakini sebagai penyaliban Yesus Kristus sedangkan oleh umat Islam diyakini sebagai penyaliban salah seorang hawariyyin yang diserupakan dengan nabi Isa as.

Bagian Pertama, mengupas tentang Yudas Iskariot yang oleh umat Kristiani diyakini sebagai pengkhianat, ternyata setelah diadakan rekontruksi dan penelusuran teks-teks Injil yang dimiliki oleh umat Kristen, diperoleh hasil bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat tetapi justru merupakan salah seorang hawariyyin yang bersedia diserupakan dengan nabi Isa u dan dijanjikan akan bersama-sama di dalam sorga kelak.

Bagian Kedua, mengupas tentang Petrus –salah seorang hawariyyin- yang di dalam Injil dinyatakan pernah menjadi seorang pengecut karena tidak mengakui gurunya Yesus Kristus, ternyata hal itu sama sekali tidak benar karena memang orang yang disangkal bukanlah Yesus tetapi Yudas Iskariot.

Bagian Ketiga, menyajikan sebuah rekontruksi tentang misteri penyaliban yang ternyata Yudas Iskariotlah yang dibunuh dan disalib, yang dengan sukarela menggantikan posisi Yesus untuk ditangkap.

Bagian Keempat, mengkaji apa yang oleh umat Kristiani disebut sebagai kebangkitan Yesus Kristus, ternyata dari penelusuran teks-teks Injil, ayat-ayat yang menampilkan tentang kebangkitan Yesus Kristus, penuh dengan kejanggalan-kejanggalan.

Kajian ini penting, karena selama ini -dalam diskusi-diskusi lintas agama-, Islam seringkali dikatakan hanya bisa menyatakan tetapi tidak bisa membuktikan, salah satunya adalah Islam dikatakan hanya bisa menyatakan ‘nabi Isa as tidak dibunuh dan tidak pula disalib’ tetapi tidak bisa membuktikannya. Semoga kajian berikut ini dan tiga edisi mendatang dapat memberikan jawaban bahwa yang dibunuh dan disalib adalah seseorang yang diserupakan dengan nabi Isa as.


Tuduhan Pengkhianat
Bagi umat Kristiani, Yudas adalah manusia terhina yang pernah terlahir ke dunia ini, pasalnya, Yudas yang merupakan salah seorang murid Yesus, telah mengkhianati Yesus hanya demi tiga puluh uang perak, konon dengan imbalan uang tersebut Yudas harus memberitahukan persembunyian Yesus dan harus menunjukkan orang yang bernama Yesus (mustahil bila orang-orang Yahudi tidak tahu Yesus).

Sebenarnya, pengkhianatan yang dituduhkan kepada Yudas, merupakan tuduhan yang tidak berperikemanusiaan dan tidak pula berperikeadilan, menurut bahasa hukum harus didahulukan praduga tidak bersalah, mungkinkah Yudas mengkhianati Yesus hanya demi tiga puluh uang perak, apalagi Yesus sendiri tidak pernah mengatakan Yudas muridnya adalah seorang pengkhianat, bahkan bila mau jeli dalam mengkaji ayat-ayat Bible, justru banyak ayat yang secara implisit –tersamar- Yudas adalah orang yang paling mulia.

Ayat-ayat yang menyatakan Yudas sebagai pengkhianat hanyalah kata-kata para penulis injil yang oleh orang-orang Kristen diyakini sebagai ilham dari Roh Kudus, perlu diketahui, bahwa para penulis Injil tidak seorangpun yang menulis Injil-nya dalam bahasa Aram yaitu bahasa sehari-hari Yesus dan para muridnya, tetapi mereka menulis Injilnya dalam bahasa Yunani. Dari sini sudah dapat dibuktikan bahwa para penulis Injil bukanlah murid-murid Yesus dan saksi dari peristiwa sesungguhnya.


AL-Qur’an Tentang Hawariyyin
Berbeda dengan keyakinan umat Kristiani yang memberikan predikat manusia terhina dan pengkhianat kepada Yudas, al-Qur’an menyatakan lain, bahwa para hawariyyin adalah orang-orang sholeh, taat dan setia, tidak satu ayatpun yang menyatakan baik eksplisit maupun implisit –gamblang maupun tersamar- salah seorang hawariyyin telah menjadi pengkhianat.

Kita kutip salah satu ayat yang menyatakan bahwa para hawariyyin adalah orang-orang yang sholeh, taat dan setia :

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut 'Isa yang setia : "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab:"Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)".
QS. 5:111

Kesetiaan merekapun telah teruji, ketika nabi Isa mulai mencium keingkaran dan niat orang-orang Yahudi untuk membunuhnya, maka beliau menawarkan kepada ke-12 muridnya

“siapakah di antara kalian yang bersedia diserupakan dengan aku, lalu dibunuh untuk menggantikan aku, maka ia akan menjadi temanku di sorga”

Maka tampillah salah seorang hawariyyin yang paling muda umurnya di antara mereka sebagai tanda kesediaannya, namun nabi Isa berkata :

“Duduklah”

Kemudian nabi Isa as mengulang lagi pertanyaan serupa, namun pemuda tersebut kembali berdiri sebagai tanda kesediannya, nabi Isa as pun menolaknya untuk kedua kalinya :

“Duduklah”

Kemudian nabi Isa as mengulang lagi pertanyaannya yang ketiga kalinya, dan pemuda itupun kembali berdiri menyatakan kesediannya, barulah nabi Isa as menerima dengan rasa haru atas keteguhan iman pemuda tersebut :

“Engkaulah orang itu”

Beberapa hari berikutnya, ketika orang-orang Yahudi telah berhasil mengepung nabi Isa as, maka pemuda tersebut berubah menyerupai nabi Isa, akhirnya ia ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan nabi Isa as selamat yang akhirnya terangkat ke langit –Diriwayatkan oleh Abi Hatim dari Ibnu Abbas, tafsir Ibnu Katsir QS. 5:157- dan akan turun kelak menjelang hari kiamat untuk menghakimi orang-orang Yahudi/Israel.

Dari kisah tersebut, sangat nyata bahwa orang yang disalib bukanlah nabi Isa as dan bukan seorang pengkhianat, melainkan seseorang yang rela mati karena keteguhan iman dan kesetiaannya kepada nabi Isa as .

Namun, pemahaman tersebut tentulah tidak serta merta dapat diberikan kepada orang-orang Kristen, karena mereka tidak mempercayai al-Qur’an dan al-Hadits, untuk itu adalah adil dan obyektif bila mereka diberikan bukti dari kitab yang mereka imani yaitu Bible.

Dengan kajian yang cermat, banyak sekali ayat-ayat Bible yang secara implisit –tersamar- mengisyaratkan Yudas Iskariot adalah murid Yesus yang paling muda dan terbesar dari antara murid-murid yang lain, dan secara implisit pula, Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat tetapi seorang yang mulia.


Bukti-Bukti Dari Bible
Ada banyak bukti dari Bible yang mendukung pernyataan al-Qur’an dan al-Hadits yang menyatakan Yudas bukanlah pengkhianat :

Bukti pertama, Ketika Yesus duduk semeja dengan ke-12 muridnya, Yesus berkata :

Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. Lukas 22:21

Ayat tersebut ditafsirkan oleh umat Kristiani sebagai pemberitahuan Yesus bahwa ada salah seorang murid yang mengkhianatinya. Namun setelah pemberitahuan tersebut, ke-12 murid Yesus ribut mempersoalkan siapa orang yang dimaksud Yesus, mereka tidak mempersoalkan seorang pengkhianat tetapi seorang yang mulia.

Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Lukas 22:24

Menanggapi siapa orang yang dipersoalkan oleh murid-muridnya, Yesus menjawab :

…melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Lukas 22:26

Adalah mustahil frase “menyerahkan aku” dalam Lukas 22:21 bila ditafsirkan sebagai orang yang mengkhianati Yesus, karena para murid Yesus langsung merespon informasi Yesus tersebut dengan mempersoalkan siapa orang yang terbesar yang dimaksudkan oleh Yesus, mereka sama sekali tidak merespon informasi Yesus tersebut sebagai seorang pengkhianat. Jadi Lukas 22:21 adalah pemberitahuan Yesus akan adanya seseorang yang terangkat derajatnya menjadi yang terbesar/termulia dari antara mereka sendiri. Para penafsir Kristen tentu tidak menyangkal bila orang yang dimaksud dalam Lukas 22:21 adalah Yudas Iskariot, jadi dengan kajian yang cermat, ternyata Yudas Iskariot adalah orang yang terbesar/termulia dari antara murid-murid Yesus, mengapa bisa demikian ?, karena dia rela menggantikan Yesus untuk ditangkap. Tafsiran seperti tersebut di atas ternyata sejalan dengan ayat lainnya :

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seo-rang di antara kamu akan menyerahkan Aku. Injil Yohanes 13:21

Kalimat Ia sangat terharu menunjukkan bahwa orang yang dimaksud menyerahkan aku pastilah bukan seorang pengkhianat, tetapi sebagai seorang yang sangat dicintainya yang rela berkorban demi keselamatan diri Yesus sehingga Yesus terangkat ke langit. Karena keterharuan tidak mungkin terjadi kepada seseorang yang mengkhianatinya.

Siapakah yang mendapatkan derajat yang sama dengan Yesus, dialah yang termuda, dialah yang terbesar, dialah yang rela diserupakan dengan Yesus, dialah yang membuat Yesus terharu, dialah Yudas Iskariot salah seorang murid Yesus, dia bukan pengkhianat, demikianlah al-Qur’an dan al-Hadits mengisahkan, demikian pula Bible secara Implisit berkisah.

Bukti kedua, Ketika Yesus berada di taman Getsemani sedang bercakap-cakap dengan ke-11 muridnya, datanglah sepasukan musuh dengan membawa pentung, senjata dan lentera bersama Yudas untuk menangkap Yesus, lalu Yudas berkata kepada mereka –pasukan- untuk menunjukkan orang yang disebut Yesus :

"Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." Injil Matius 26:48

Cara Yudas mengindentifikasi Yesus dengan menciumnya, secara psikologis adalah mustahil dilakukan oleh seorang pengkhianat kepada orang yang dikhianatinya, kalau memang benar Yudas berkhianat kepada gurunya, maka cara yang paling mungkin secara psikologis adalah cukup hanya menunjuk dengan jari telunjuknya dari kejauhan dan mengatakan :

“Itulah Yesus, orang yang akan kalian tangkap”

Dengan cara tersebut, tentulah akan membebaskan dia dari tekanan psikologis yang datangnya dari Yesus dan ke-11 murid yang lainnya, dan tentu imbalan tiga puluh uang perak merupakan imbalan yang sangat tidak sebanding dengan beban psikologis yang akan dia terima bila ia mengindentifikasi Yesus dengan sebuah ciuman.

Lalu apa maksud Yudas mencium Yesus ?, karena dia sudah berjanji kepada Yesus untuk diserupakan dengan Yesus, saat itulah saat di mana dia akan memenuhi janjinya, yang berarti dia akan berpisah dengan gurunya karena dia akan segera ditangkap dan Yesus-gurunya akan terangkat ke langit. Dan ciuman kepada gurunya bisa jadi dia maksudkan untuk mendapatkan kekuatan moril dari Yesus agar dia tetap teguh menghadapi penangkapan dirinya dengan resiko dibunuh. Makanya Yesus terharu ketika menyampaikan kepada ke-12 muridnya bahwa ada seseorang yang akan menyerahkan dirinya dari antara ke-12 murid-nya –Yohanes 13:21-, ternyata kata menyerahkan dirinya bukanlah berarti mengkhianatinya tetapi menjadikan Yesus terangkat ke langit dalam keadaan selamat dan hidup.

Menafsirkan ciuman Yudas sebagai indentifikasi Yesus agar para pasukan tidak salah tangkap adalah tafsiran yang tidak memperhatikan kata-kata Yesus sendiri :

Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap aku? Padahal tiap-tiap hari aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Injil Matius 26:55

Dari ayat tersebut sudah jelas, bahwa orang-orang yang akan menangkap Yesus sudah mengenal siapa dan bagaimana rupa Yesus, karena mereka sudah sering melihat Yesus mengajar di bait Allah dan berdakwah secara terang-terangan, apalagi Yesus adalah tokoh yang sangat kontroversial bahkan sentral pada saat itu, banyak mukjizat yang telah ia berikan kepada orang-orang Yahudi tetapi sebagian besar mengingkarinya dan membencinya, adalah mustahil bila mereka tidak mengenal Yesus dan rupa wajahnya, adalah aneh bila ciuman Yudas diartikan untuk mengindentifikasi Yesus. Mari kita kutip kisah lain yang lebih menarik.

Kisah ini sama dengan kisah sebelumnya, yaitu terjadi di taman Getsemani jum’at malam, namun di tulis oleh penulis Injil yang lain yaitu Yohanes :

1. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.

2. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?"

3. Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret’ Kata-Nya kepada mereka: ‘Akulah Dia’ Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.

4. Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.

5. Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."

6. Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
Injil Yohanes 18:3-8

Bila diamati dengan jeli fragmen no 2-3, bagaimana mungkin bisa terjadi dialog :

Yesus : siapakah yang kamu cari
Pasukan : Yesus dari Nazaret
Yesus : Akulah dia

Dialog tersebut menunjukkan keragu-raguan pasukan akan diri Yesus yang sesungguhnya, bagaimana mungkin para pasukan dalam keraguan bila ciuman Yudas kepada Yesus diartikan sebagai ciuman pengkhianatan untuk indentifikasi Yesus ?, pasti ciuman Yudas bukanlah untuk mengkhianati, tetapi ciuman perpisahan dan untuk mendapatkan kekuatan moril dari Yesus. Pada fragmen ke 4 terjawablah misteri tersebut, yaitu ketika Yesus menjawab ‘Akulah dia’ para pasukan mundur dan terjatuh ke tanah, mengapa terjadi demikian ? inilah rencana Allah SWT, mereka dibuat terjatuh oleh Allah SWT agar mereka tidak menyaksikan penyerupaan Yudas kepada Yesus, dan sesaat setalah itu, Yudas yang telah serupa dengan Yesus berkata ’Telah Kukatakan kepadamu, Aku-lah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi’, maka pasukan itupun menangkap Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus. Wallahu a’lam. Bersambung ke Bagian 2/4 (al-islahonline.com)

Siapa Bilang Yesus Mati di Tiang Salib...??

Sebenarnya pertanyaan : …..benarkah Yesus mati di tiang salib…?....telah menjadi pertanyaan yang selalu menyelinap kedalam akal para kristanis diseluruh dunia.

Cerita mengenai penyaliban, hanya ada di kitab yang diklaim sebagai kitab suci oleh umat Kristen. Bukkti-bukti sejarah tidak menunjukkan adanya kematian itu.

Mari kita review apa kata injil :

Lihat Yohannes 20: 11 - 17
(11) Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, (12) dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. (13) Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." (14) Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. (15) Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." (16) Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (17) Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.".


Sampai disini, cerita dari injil jelas menyatakan bahwa Yesus belum mati.

Mari kita telusuri cerita ini selanjutnya :
Yohanes 20 : 19:20
(19) Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" (20) Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.


Yesus menunjukkan tangan dan lambungnya. Kenapa tangan dan lambung ?. Karena tangan itulah yg dipakukan ke tiang salib dan lambungnya yang ditusuk dengan tombak oleh tentara Romawi. (Ini pun, dengan asumsi, cerita penyaliban itu, benar adanya).

Sampai disini......, Yesus juga belum mati........!!!.

Dan yang perlu dicatat, meskipun kita semua tahu, bahwa Yesus, dipanggil Tuhan oleh murid-muridnya setelah bangkit dari kubur. Kita juga perlu menggaris bawahi kata-kata “bangkit dari kubur” ini, karena kata-kata itu adalah kata-kata yang didramatisir sedemikian rupa oleh para penulis injil. Padahal sebenarnya, Yesus berada dalam masa penyembuhan dari luka-lukanya.

Kemana Calon Tuhan itu Menghilang selama 18 tahun….?
Jadi ketika Yesus lahir, menginjak masa kanak-kanak dan remaja dia “belum menjadi Tuhan” . Dia hanyalah seorang anak manusia biasa, yg lahir dari seorang perwan.

Tapi, kita perlu merasa kasihan kepada umat Kristen, karena mereka tidak tahu kemana “calon Tuhan mereka” pergi dari usia 12 sampai 30 tahun. Tidak ada satupun orang Kristen yang tahu kemana calon Tuhan mereka menghilang selama 18 tahun. Tapi, menurut saya, bisa saja mereka benar-benar tidak tahu, tetapi mungkin juga mereka pura-pura tidak tahu. Sebab kalau mereka mau bertanya, mencari informasi kemana saja calon Tuhan mereka menghilang selama 18 tahun, maka mereka akan menemukan informasi tersebut. Tuhan telah menciptakan dunia ini begitu luas.

Apalagi kalau mereka, para Kristianis tersebut, mencari informasi sampai ke Tibet sana. Ke-biara-biara para Lama (pendeta Tibet) diantara puncak-puncak pegunungan tertinggi didunia. Mereka akan mengetahui dimana dan apa saja kerja calon Tuhan mereka.

Atau setidak-tidaknya, para Kristianis, dapat bertanya kepada Nicolai Notovich, seorang pengembara Rusia yang telah sampai ke salah satu biara terjauh diujung langit, yaitu dibiara Hemis, sekitar 20 mil sebelah tenggara Leh, di Tibet. Dibiara tersebut terdapat 84.000 (empat puluh enam ribu) gulungan naskah kuno, yang masih dipelihara. Diantara puluhan ribu gulungan tersebut terdapat cerita mengenai Yesus. Pendeta di biara Hemis, menceritakan kepada pengembara Rusia ini, bahwa naskah mengenai Yesus dibawa ke Tibet dari India dan Nepal. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Pali dan disimpan di Lhasa, ibukota Tibet. Salinan dalam bahasa Tibet nya disimpan di biara Hemis ini.

Naskah tersebut menceritakan pada ayat ke-5 bagian ke-4, menceritakan hal berikut ini :

Tidak lama setelah itu, seorang anak yang molek dilahirkan dinegeri Israel. Tuhan sendiri langsung berbicara kepada anak ini, menerangkan kurang berartinya lahiriyah, dan mulianya rohani.
Kedua orang tua anak itu miskin, dan termasuk keluarga yang terhormat karena kesalehan mereka dan mereka telah lupa akan keturunan yang mulia dibumi, me-MahaSuci-kan Sang Pencipta dan memberkahi mereka yang malang, yaitu agar mereka dianugerahi.

Anak yang diberkahi, yang kepadanya mereka berikan nama Isa, mulai membicarakan ke Esa an dan ke Tauhid an Ilahi sejak masa kanak-kanak. Ia memperingatkan orang-orang yang sesat untuk bertobat dan membersihkan dosa-dosa mereka.

Ketika Isa mencapai usia 13 tahun, yang pada usia itu bangsa Israel biasanya memungut isteri, ada yang menginginkan Isa untuk menjadi menantunya, karena diskusi-diskusinya yang menggunggah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan karena kemasyhurannya yang sudah tersebar luas.

Ingat, Anda sedang membaca naskah kuno berbahsa Tibet, milik biara Hemis di Leh, ibu kota Ladakh, Tibet. Kita kembali sejenak ke pada naskah injil, yang menceritakan bahwa pada umur 12 tahun Yesus (= Isa), menggemparkan Bait Allah dengan diskusinya dengan para Rahib di Bait Allah tersebut. Setelah itu, Injil diam seribu bahasa mengenai Yesus, sampai muncul lagi di usia sekitar 30 tahun.

Sekarang kita lanjutkan cerita naskah di biara Hemis :

Pada waktu itu juga Isa secara rahasia telah menghilang dari rumah orang tuanya. Dia meninggalkan Yerusalem, bergabung dengan para pedangan menuju Sind. Dia berniat untuk menyempurnakan dirinya mencari pengertian mengenai Ilahi dan mempelajari hukum-hukum Budha.

Lha,....???. Misteri menghilangnya calon Tuhan umat Kristiani ini ternyata dapat dilacak di Tibet sana....!!!.
Naskah tersebut selanjutnya menceritakan bahwa:

Yesus, setelah menetap beberapa lama di Sind, melanjutkan perjalanan Ainjab. Masyarakat Ainjab yang menyembah Tuhan Jaina, memohon kepadanya, agar sudi menetap dengan mereka. Tapi Isa tetap melanjutkan perjalannya ke Jagannath di negeri Orissa, dimana tinggal Viaya-Krisnha.
Disini, Yesus diterima dengan suka cita oleh para pendeta Brahma, dan mengajaknya untuk membeca kitab Weda. Yesus berada di sekitar Jagannath, Rajagriba dan Benares, selama 6 tahun. Dia amat termasyhur dikalangan masyarakat, termasuk dikalangan kaum Waisya dan Sudra. Yesus, mempunyai musuh pertamanya dari kalangan Brahma, karena beliau mengajarkan persamaan derajat diantara umat manusia, suatu hal yg sangat ditentang oleh kaum Brahma.

Nah, para kristianis di seluruh dunia, saya anjurkan Anda belajar ke Tibet sana, untuk mengetahui kemana calon Tuhan Anda menghilang selama 18 tahun.


Kemana Yesus setelah Bangkit dari Kubur....?
Umat Kristen sangat percaya (dengan taklid buta) bahwa setelah memperlihatkan diri kepada para muridnya, Yesus diangkat ke sorga, lalu bersemayam disebelah kanan Allah. Kita tidak tahu, entah dari mana para penulis injil menyelipkan cerita dongeng ini.

Tapi sebenarnya apa yang terjadi……??.

Yesus tidak mati….., dia tetap hidup sampai usia tua dan mempunyai anak.

Setelah penampakan dirinya kepada murid-muridnya, Yesus masih menampakkan diri dibeberapa tempat dengan dalam rupa yang lain. Jangan salah menginterpretasikan kata-kata “dengan rupa yang lain” ini, karena maksudnya dengan kata-kata tersebut bias saja benar-benar dalam bentuk atau penampilan yang lain, karena….penyamaran…!!. Tidak ada pilihan lain bagi Yesus untuk menyelamatkan dirinya dari penangkapan musuh-musuhnya para Rabi Israel, kecuali menyamar dan mengungsi.

Beliau jelas belum mau mati. Masih ada tugas yang harus dikerjakannya, yaitu mencari domba-domba Israel yang tersesat....!!!.

Selama ini, para kristiani selalu menginterpretasikan, “mencari domba-domba Israel yang tersesat”, dengan mengembalikan orang-orang Israel yang tersesat dari ajarat Taurat. Bukan itu saja....!!!. „Domba-domba Israel yang tersesat benar-benar merupakan bagian bagsa Israel yang hilang. Bangsa Israel setelah ditaklukkan oleh Babilonia, diangkut ke Babilonia. Mereka menjadi budak dan budak anak-anak Nebukadnezar sampai kerajaan Persia berkuasa. (II Tawarikh- 36 : 20). Kitab Perjanjian Lama (PL) selanjutnya menceritakan bahwa akhirnya bangsa Israel ini dikembalikan ke Palestina. Tapi pertanyaannya disini adalah, apakah semua bangsa Israel yang kembali....?. Jawabannya ada dalam Kitab 2 Edras-13:29-30, yang menyatakan bahwa mereka yang tidak kembali melanjutkan pengembaraan ke Timur untuk kemudian menetap disuatu dareah yang diberi nama Asareth. Sayangnya umat Kristen dilarang membaca buku ini, karena buku termasuk buku non-kanonik. Sementara itu, buku-buku sejarah bangsa Kashmir dan Afganistan, selalu menulis bahwa bangsa Kashmir dan Afganisthan, berasal dari suku bangsa Israel. Dan lebih penting lagi adalah persamaan nama suku-suku diwilayah ini dengan nama nama yang terdapat dalam Al-Kitab. Sangat banyak...!!. Sekadar menyebut contoh, nama-nama suku di Kashmir dan Afganistan :
Suku bangsa Azri, dalam Alkitab : Azriel (1 Tawarich-5:24)
Suku bangsa Beroth, dalam Al-Kitab: Beeroth (2 Samuel 4:2)
Suku bangsa Caleb, dalam Al-Kitab : Caleb (1 Tawarikh-2:18)
Suku bangsa Dattu, dalam Al-Kitab: Dathan (Bilangan 16:1)
Suku bangsa Gabba, dalam Alkitab : Gabbai (Nehemiah 11:8)
Suku bangsa Hahput, dalam Al-Kitab : Hatipha (Nehemia-7:56)
Suku bangsa Iqqash, dalam Al-Kitab: Ikkesh (1 Tawarikh-11:28)
Suku bangsa Kanaz, Kunzru, dalam Al-Kitab: Kenaz (Hakim-hakim 3:9)

Dan masih sangat banyak persamaan nama ini, termasuk dengan di Pakistan.

Jadi, jejak suku-suku Israel yang hilang ini banyak sekali dapat ditemukan didaerah sekitar Kashmir dan Afganistan ini.

Dan...., kesinilah Yesus menghilang setelah sembuh dari luka-lukanya di tiang salib.

Banyak sekali bukti perjalan Yesus ke daerah ini direkam oleh ingatan masyarakat setempat. Rute perjalanan Yesus dari Yerusalem, adalah Damaskus, Nusyaibin, Kashan, Taxila (sekarang masuk wilayah Pakistan, tidak jauh dari perbatasan Kahsmir), Muree, Srinagar, Ashmuqam. Diwilayah-wilayah ini, Yesus di kenal dengan nama Yuz Asaf, yang artinya adalah „Pemimpin penyembuh penyakit kusta“. Perjalanan itu dilakukan bersama ibunya Bunda Maria dan muridnya Thomas. Bunda Maria, karena tidak kuat menghadapi kesukaran dalam perjalanan, akhirnya meninggal di suatu tempat yang sekarang disebut Muree (kata ini berasal dari kata "Maria"), sekitar 30 mil dari Rawalpindi sekarang. Bunda tercinta ini, dikebumikan disuatu tempat yang dikenal dengan nama Pindi Point (Puncak Pindi), dan makamnya dinamakan Mai Mari da Asthan yang artinya tempat peristirahatan Bunda Maria.

Yesus melanjutkan perjalannya menuju Kashmir. Beliau masuk ke Kashmir melalui lembah yang sekarang dikenal sebagai Yusmarg (Padang Rumput Yesus). Daerah ini didiami oleh suku bangsa Yadu, keturunan dari 10 suku Israel. Dari sini, kearah Timur sampailah Aishmuqam, artinya Tempat Istirahat Yesus. Menurut buku Tarikh-i-Kashmir, yang ditulis dalam bahasa Persia, didapatkan cerita sebagai berikut :

Raja Gopananda kemudian memulai aktifitasnya di Lembah Kashmir....dst...dst.....
Dimasa periode itu Yusa Asaf tiba dari Palestina dan mulai mengaku dirinya Nabi di Lembah Kashmir. Dia melaksanakan tugas nya siang dan malam dan dia sangat tawakal dan suci.
Dia menyampaikan firman-firman Tuhan kepada rakyat Kashmir. Banyak sekalai orang yang insyaf dan menjadi pengikutnya. Raja memohon kepadanya untuk memimpin orang-orang Hindu ke jalan yang benar.

Baca juga catatan didalam buku kuno : Bhavisya Mahapurana, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta pada tahun 3191, pada zaman Laukika (115 M), diceritakan bahwa pada suatu waktu Raja Shalewahin berjalan-jalan dipegunungan Voyen, dekat Srinagar, melihat seseorang yang berpakainan lain dari pada yang lain, berbaju putih dan berwajah simpatik. Dalam ayat 17-32, kita diberitahu bahwa diantara Raja dengan orang tersebut terjadi dialog sebagai berikut :

Raja Salewahin bertanya kepadanya, siapkah gerangan dia...?. Dia menjawab dengan lemah lembut : „ Saya yang dikenal dengan anak Tuhan yang lahir dari seorang perawan“. Sang Raja merasa terpesona dengan jawaban ini, kemudian orang itu melanjutkan : „Saya mengajarkan agama bangsa Amalekit dan mengikuti prinsip-prinsip kebenaran sejati“. Sang raja bertanya kepadanya mengenai agamanya, orang itu menjawab : „ Wahai raja, saya menyeru dari negeri yang amat jauh, dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya muncul di negeri bangsa Amalekit sebagai Masih. Melalui sayalah orang-orang berdosa dan orang-orang bersalah menderita, dan saya juga menderita ditangan-tangan mereka....“.
Selanjutnya diceritakan, bahwa Yesus akhirnya menikah dengan eorang perempuan desa yang cantik jelita, bernama Mirjan (atau Marjon), dan mempunyai keturunan. Salah seorang keturunan Yesus yang masih dapat dijumpai sampai sekarang adalah seseorang yang bernama Sahibzada Baharat Saleem, yang tinggal di kota Srinagar. Yesus atau didaerah Kahsmir, dikenal dengan nama Yus Asaf, akhirnya meninggal di Kashmir, dimakamkan di distrik Khanyar, dipusat ibukota Kashmir, Srinagar.

Jadi....?
Kepercayaan dogmatis penebusan dosa ditiang salib, adalah rekaan para murtadin ajaran Yesus. Yesus atau yang kita kenal dengan Isa Al-Masih, tidak mati ditiang salib. Tetapi beliau mengembara jauh ke Timur, seperti yang dilakukannya ketika muda selama 18 tahun dari umur 12 sampai 30 tahun.

Yesus tidak mati…!!!. Doktrin Penebusan Dosa ditiang Salib gugur….!!!.

Cerita ini di sadur dari buku :
Yesus Wafat di Kashmir
Karangan: Andreas Faber Kaiser
Diterbitkan pertama kali oleh : Gordon Cremonnesi, Ltd, 1977, di Great Britania









Apa yang Alkitab katakan mengenai Allah dan Yesus ?

JIKA orang membaca Alkitab dari depan sampai belakang tanpa memiliki gagasan sebelumnya mengenai Tritunggal, apakah mereka dengan sendirinya akan sampai pada konsep tersebut? Sama sekali tidak.

Apa yang dengan sangat jelas akan timbul dalam pikiran seorang pembaca yang netral ialah bahwa Allah saja Yang Mahatinggi, sang Pencipta, terpisah dan berbeda dari pribadi manapun, dan bahwa Yesus, bahkan dalam keberadaannya sebelum menjadi manusia, juga terpisah dan berbeda, suatu makhluk yang diciptakan, lebih rendah daripada Allah.


Allah Itu Satu, Bukan Tiga
AJARAN Alkitab bahwa Allah itu esa atau satu disebut monoteisme. Dan L. L. Paine, profesor sejarah gereja, menyatakan bahwa monoteisme dalam bentuknya yang paling murni tidak mengizinkan adanya Tritunggal: “Perjanjian Lama secara tegas adalah monoteistis. Allah adalah suatu pribadi tunggal. Gagasan bahwa suatu tritunggal dapat ditemukan di dalamnya... sama sekali tidak berdasar.”

Apakah ada perubahan dari monoteisme setelah Yesus datang ke bumi? Paine menjawab: “Mengenai hal ini tidak ada pemisah antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tradisi monoteistis terus dilanjutkan.

Yesus adalah seorang Yahudi, dilatih oleh orang-tua Yahudi dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Ajarannya sepenuhnya Yahudi: memang suatu injil baru, namun bukan suatu teologi baru... Dan ia menerima sebagai kepercayaannya sendiri ayat agung dari monoteisme Yahudi:
‘Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita adalah satu Allah’”

Kata-kata tersebut terdapat dalam Ulangan 6:4. New Jerusalem Bible (NJB) Katolik berbunyi: “Dengarlah, Israel: Yahweh Allah kita adalah esa, satu-satunya Yahweh.”[1] Dalam tata bahasa dari ayat itu. kata ìesaî tidak mengandung sifat jamak untuk menyatakan bahwa kata itu mempunyai arti yang lain, yaitu bukan satu pribadi.
Catatan kaki:
[1] Nama Allah dinyatakan “Yahweh” dalam beberapa terjemahan, “Jehovah” dalam terjemahan-terjemahan lain (dalam bahasa Inggris).

Rasul Kristen Paulus tidak menunjukkan adanya perubahan dalam sifat Allah, bahkan setelah Yesus datang ke bumi. Ia menulis: “Allah adalah satu.” -Galatia 3: 20, lihat juga 1 Korintus 8:4-6.

Ribuan kali dalam seluruh Alkitab, Allah disebutkan sebagai satu Pribadi. Bila Ia berfirman, ini adalah sebagai satu Pribadi yang tidak terbagi. Alkitab benar-benar sangat jelas dalam hal ini.

Seperti Allah katakan: “Aku ini [Yehuwa], itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain. “ (Yesaya 42 :8) “Akulah Yahweh Allahmu... Engkau tidak boleh memiliki allah-allah lain kecuali aku.” (Cetak miring red.)-Keluaran 20: 2, 3, JB.
Untuk apa semua penulis Alkitab yang diilhami Allah akan berbicara mengenai Allah sebagai satu Pribadi jika Ia sebenarnya adalah tiga Pribadi? Apa gunanya hal itu, selain dari menyesatkan orang? Tentu, jika Allah terdiri dari tiga Pribadi, la akan menyuruh para penulis Alkitab-Nya untuk membuat hal itu benar-benar jelas sehingga tidak mungkin ada keraguan mengenai hal itu. Sedikitnya para penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen yang mempunyai hubungan pribadi dengan Anak Allah sendiri tentu akan berbuat demikian. Ternyata tidak.

Sebaliknya, apa yang dinyatakan dengan sangat jelas oleh para penulis Alkitab ialah bahwa Allah adalah satu Pribadi;
Pribadi yang unik, tidak terbagi-bagi yang tidak setara dengan siapapun juga: “Akulah [Yehuwa] dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. “ (Yesaya 45:5) “Engkau sajalah yang bernama [Yehuwa], Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”-Mazmur 83 :19.


Bukan Allah yang Jamak
YESUS menyebut Allah “satu-satunya Allah yang benar.” (Yohanes 17:3) Ia tidak pernah menyebut Allah sebagai ilahi yang terdiri dari pribadi-pribadi jamak. Itulah sebabnya dalam Alkitab tidak ada satu pribadi pun selain Yehuwa yang disebut Yang Mahakuasa. Jika tidak, arti kata “mahakuasa” tidak berlaku lagi. Yesus maupun roh kudus tidak pernah disebut demikian, karena hanya Yehuwa yang paling tinggi. Dalam Kejadian 17:1 Ia berkata: “Akulah Allah Yang Mahakuasa.” Dan Keluaran 18:11 berbunyi: “[Yehuwa] lebih besar dari segala allah.”

Dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata ‘eloh’ah (allah) mempunyai dua bentuk jamak, yaitu, ‘elo-him’ (allah-allah) dan ‘elo-heh’ (allah-allah dari). Bentuk-bentuk jamak ini umumnya memaksudkan Yehuwa, dan dalam hal itu kata-kata tersebut diterjemahkan dalam bentuk tunggal sebagai “Allah.” Apakah bentuk-bentuk jamak tersebut menyatakan suatu Tritunggal? Tidak. Dalam A Dictionary of the Bible, William Smith berkata: “Gagasan khayalan bahwa [’elo-him’] memaksudkan tritunggal dari pribadi-pribadi dalam Keilahian, sekarang hampir tidak mempunyai pendukung lagi di kalangan para sarjana. Hal itu adalah apa yang disebut para ahli tata bahasa bentuk jamak dari keagungan, atau itu menyatakan kepenuhan dari kekuatan ilahi. Kuasa keseluruhan yang diperlihatkan oleh Allah.”

The American Journal of Semitic Languages and Literatures mengatakan tentang ‘elo-him.’ “Ini hampir selalu dijelaskan dengan suatu predikat kata kerja tunggal, dan membutuhkan atribut kata sifat tunggal.” Untuk menggambarkan ini, gelar ‘elo-him’ muncul 35 kali secara tersendiri dalam kisah penciptaan, dan setiap kali kata kerja yang menggambarkan apa yang Allah katakan dan lakukan adalah dalam bentuk tunggal. (Kejadian 1:1-2:4) Jadi, publikasi itu menyimpulkan: “[’Elo-him’] agaknya harus dijelaskan sebagai bentuk jamak yang bersifat intensif, yang menyatakan kebesaran dan keagungan.”

‘Elo-him’ bukan berarti “pribadi-pribadi,” melainkan “allah-allah.” Jadi mereka yang berkukuh bahwa kata ini menyatakan suatu Tritunggal menjadikan diri sendiri politeis, penyembah lebih dari satu Allah. Mengapa? Karena ini berarti ada tiga allah dalam Tritunggal. Namun hampir semua pendukung Tritunggal menolak pandangan bahwa Tritunggal terdiri dari tiga allah yang terpisah.

Alkitab juga menggunakan kata-kata ‘elo-him’ dan ‘elo-heh’ bila menyebutkan sejumlah allah-allah berhala yang palsu.
(Keluaran 12:12; 20:23). Namun pada kesempatan lain hal itu bisa memaksudkan hanya satu allah palsu, seperti ketika orang-orang Filistin menyebutkan “Dagon, allah mereka [’elo-heh’].” (Hakim 16:23, 24) Baal disebut “allah [’elo-him]” (1 Raja 18:27) Selain itu, ungkapan ini digunakan untuk manusia. (Mazmur 82:1, 6) Musa diberi tahu bahwa dia akan menjadi “Allah [’elo-him’]” bagi Harun dan bagi Firaun.-Keluaran 4:16; 7:1.

Jelas, menggunakan gelar-gelar ‘elo-him’ dan ‘elo-heh ‘untuk allah-allah palsu, dan bahkan manusia, tidak menyatakan bahwa masing-masing adalah allah-allah yang jamak; demikian juga menerapkan ‘elo-him’ atau ‘elo-heh’ pada Yehuwa tidak berarti bahwa Ia lebih dari satu Pribadi, terutama bila kita mempertimbangkan bukti dari ayat-ayat lain dalam Alkitab mengenai pokok ini.


Yesus Ciptaan yang Terpisah
KETIKA berada di atas bumi, Yesus adalah seorang manusia, meskipun manusia yang sempurna karena Allah telah memindahkan daya kehidupan dari Yesus ke dalam rahim Maria. (Matius 1: 18-25) Namun itu bukan awal kehidupannya. Ia sendiri menyatakan bahwa ia “telah turun dari sorga.” (Yohanes 3:13) Jadi wajarlah bila ia belakangan berkata kepada para pengikutnya: “Bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia [Yesus] naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?”-Yohanes 6:62.

Jadi. Yesus sudah hidup di surga sebelum datang ke bumi. Tetapi apakah sebagai salah satu pribadi dalam Keilahian tiga serangkai yang mahakuasa dan kekal? Tidak, karena Alkitab dengan jelas menerangkan bahwa sebelum menjadi manusia, Yesus adalah suatu makhluk roh yang diciptakan sama seperti malaikat-malaikat adalah makhluk-makhluk roh yang diciptakan oleh Allah. Para malaikat maupun Yesus tidak hidup sebelum mereka diciptakan.

Yesus, sebelum hidup sebagai manusia, adalah ‘yang sulung dari segala yang diciptakan.’ (Kolose 1:15) Ia adalah “permulaan dari ciptaan Allah.” (Wahyu 3:14) “Permulaan” [bahasa Yunani, ar-khe’] tidak dapat ditafsirkan bahwa Yesus adalah ‘pemula’ dari ciptaan Allah. Dalam tulisan-tulisannya di Alkitab, Yohanes menggunakan berbagai bentuk dari kata Yunani ar-khe’ lebih dari 20 kali, dan ini selalu mempunyai arti umum “permulaan.” Ya, Yesus diciptakan oleh Allah sebagai permulaan dari ciptaan-ciptaan Allah yang tidak kelihatan.

Perhatikan betapa erat hubungan antara acuan-acuan kepada asal usul Yesus dengan pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh “hikmat” kiasan dalam buku Amsal di Alkitab: “TUHAN [Yahweh, NJB] telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama-tama dahulu kala. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama [”unsur-unsur pertama dari dunia,” NJB].” (Amsal 8: 12, 22, 25, 26)

Meskipun istilah “hikmat” digunakan untuk mempersonifikasi pribadi yang Allah ciptakan, kebanyakan sarjana setuju bahwa ini sebenarnya adalah kata kiasan untuk Yesus sebagai makhluk roh sebelum hidup sebagai manusia.

Sebagai “hikmat” sebelum menjadi manusia, Yesus selanjutnya berkata bahwa ia berada “di sampingNya [Allah], seorang pekerja ahli.” (Amsal 8: 30. JB) Selaras dengan peranan sebagai pekerja ahli ini, Kolose 1:16 (BIS) mengatakan tentang Yesus bahwa “melalui dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi.”

Jadi melalui pekerja ahli inilah, seolah-olah mitra kerja-Nya yang lebih muda, Allah Yang Mahakuasa menciptakan semua perkara lain. Alkitab meringkaskan masalahnya sebagai berikut: “Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu... dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia, segala sesuatu telah dijadikan.” (Cetak miring red.)-1 Korintus 8:6, Revised Standard Version, edisi Katolik; BIS.

Tiada sangsi lagi bahwa kepada pekerja ahli inilah Allah berkata: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kejadian 1: 26) Ada yang mengatakan bahwa “Kita” dalam pernyataan ini menunjukkan suatu Tritunggal. Namun jika anda mengatakan, ‘Baiklah kita membuat sesuatu untuk diri kita,’ tidak seorang pun akan secara wajar memahami bahwa ini menyatakan beberapa orang digabungkan menjadi satu di dalam diri anda. Anda hanya memaksudkan bahwa dua pribadi atau lebih akan bersama-sama mengerjakan sesuatu. Maka, demikian pula, ketika Allah menggunakan “Kita,” Ia hanya menyapa suatu pribadi lain, makhluk roh-Nya yang pertama, sang pekerja ahli, pramanusia Yesus.


Dapatkah Allah Dicobai?
DALAM Matius 4:1, Yesus dikatakan “dicobai Iblis.” Setelah menunjukkan kepada Yesus semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,” Setan berkata: “Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4:8, 9) Setan berupaya untuk membuat Yesus tidak loyal kepada Allah.

Tetapi ujian keloyalan macam apakah itu jika Yesus adalah Allah? Dapatkah Allah memberontak melawan diri-Nya sendiri? Tidak, tetapi malaikat-malaikat dan manusia dapat memberontak melawan Allah dan telah berbuat demikian. Cobaan atas Yesus hanya masuk akal jika ia, bukan Allah, melainkan suatu pribadi yang terpisah yang mempunyai kehendak bebasnya sendiri, pribadi yang bisa saja tidak loyal jika ia memutuskan demikian, seperti halnya malaikat atau manusia.

Sebaliknya, kita tidak dapat membayangkan bahwa Allah dapat berdosa dan tidak loyal kepada diri-Nya sendiri. “PekerjaanNya sempurna... Allah yang setia,... adil dan benar Dia.” (Ulangan 32:4) Jadi jika Yesus adalah Allah, ia tidak mungkin dicobai.-Yakobus 1:13.

Karena bukan Allah, Yesus bisa saja tidak loyal. Namun ia tetap setia, dengan mengatakan: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan [Yehuwa, NW], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”-Matius 4:10.


Berapa Besar Harga Tebusan Itu?
SALAH satu alasan utama Yesus datang ke bumi juga mempunyai hubungan langsung dengan Tritunggal. Alkitab menyatakan:
“Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan [yang sesuai, NW] bagi semua manusia.”-1 Timotius 2: 5,6.

Yesus, yang tidak lebih dan tidak kurang daripada seorang manusia sempurna, menjadi tebusan yang dengan tepat mengganti rugi apa yang telah dihilangkan Adam -hak untuk hidup sebagai manusia sempurna di bumi. Jadi Yesus dengan tepat dapat disebut “Adam yang akhir” oleh rasul Paulus, yang berkata dalam ikatan kalimat yang sama: “Sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15: 22, 45) Kehidupan manusia yang sempurna dari Yesus adalah “tebusan yang sesuai” yang dituntut oleh keadilan ilahi-tidak lebih, tidak kurang. Suatu prinsip dasar bahkan dari keadilan manusia ialah bahwa harga yang dibayar harus sesuai dengan kesalahan yang dilakukan.

Tetapi, jika Yesus adalah bagian dari suatu Keilahian, harga tebusan akan sangat jauh lebih tinggi daripada apa yang dituntut oleh Taurat Allah sendiri. (Keluaran 21:23-25; Imamat 24:19-21) Yang berdosa di Eden hanya seorang manusia sempurna, Adam, bukan Allah. Maka tebusan itu, agar benar-benar selaras dengan keadilan Allah, harus tepat sama nilainya-seorang manusia sempurna, “Adam yang akhir.” Maka, ketika Allah mengutus Yesus ke bumi sebagai tebusan itu, Ia menjadikan Yesus sebagai sesuatu yang akan memenuhi keadilan, bukan suatu inkarnasi, bukan manusia-allah, melainkan manusia sempurna, “lebih rendah daripada malaikat-malaikat.” (Ibrani 2:9; bandingkan Mazmur 8: 6, 7.)

Bagaimana mungkin suatu bagian dari Keilahian yang mahakuasa Bapa, Anak, atau roh kudus-dapat lebih rendah daripada malaikat-malaikat?


Bagaimana “Satu-Satunya yang Diperanakkan”?
ALKITAB menyebut Yesus “Anak Tunggal” atau dalam bahasa Inggris, “only-begotten Son” (“Anak satu-satunya yang diperanakkan”). (Yohanes 1:14; 3:16, 18; 1 Yohanes 4:9) Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa karena Allah itu kekal, maka Anak Allah juga kekal. Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?

Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa dalam hal Yesus, “satu-satunya yang diperanakkan” tidak sama dengan definisi kamus untuk “memperanakkan” yang adalah “memberi kehidupan sebagai bapa.” (Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary) Mereka berkata bahwa dalam hal Yesus ini memaksudkan “sifat dari hubungan tanpa asal usul,” semacam hubungan anak tunggal tetapi tanpa ia diperanakkan. (Vine’s Expository Dictionary of Old and New Testament Words, karya Vine) Apakah hal itu kedengaran masuk akal bagi anda? Dapatkah seorang pria menjadi ayah seorang anak tanpa memperanakkan dia?

Selain itu, mengapa Alkitab menggunakan kata Yunani yang sama untuk “satu-satunya yang diperanakkan” (seperti diakui oleh Vine tanpa penjelasan apapun) untuk menggambarkan hubungan antara Ishak dengan Abraham? Ibrani 11:17 menyebut Ishak sebagai “anaknya [Abraham] yang tunggal,” atau dalam bahasa Inggris “anak satu-satunya yang diperanakkan.” Tidak mungkin ada keraguan bahwa dalam hal Ishak, ia satu-satunya yang diperanakkan dalam arti yang normal, tidak sama dalam umur atau kedudukkan dengan ayahnya.

Kata dasar bahasa Yunani untuk “satu-satunya yang diperanakkan” yang digunakan untuk Yesus dan Ishak ialah monogenes’, dari mo’nos, yang berarti “satu-satunya,” dan gi’no-mai, sebuah akar kata yang berarti “menghasilkan,” “menjadi (menjadi ada),” kata Exhaustive Concordance oleh Strong. Maka, monogenes’ didefinisikan sebagai : “Satu-satunya yang dilahirkan, satu-satunya yang diperanakkan, artinya satu-satunya anak.”-A Greek and English Lexicon of the New Testament, oleh E. Robinson. Theological Dictionary of the New Testament,, dengan penyunting Gerhard Kittel, berkata: “[Monogenes] berarti ‘keturunan satu-satunya’ yaitu, tanpa saudara laki-laki atau perempuan.” Buku ini juga menyatakan bahwa dalam Yohanes 1:18; 3: 16, 18; dan 1 Yohanes 4:9, “hubungan Yesus tidak hanya disamakan dengan hubungan seorang anak tunggal atau satu-satunya anak dengan ayahnya. Ini memang hubungan antara anak satu-satunya yang diperanakkan oleh sang Bapa.”

Jadi, kehidupan Yesus, Anak satu-satunya yang diperanakkan, mempunyai permulaan. Dan Allah Yang Mahakuasa dengan tepat dapat disebut Yang Memperanakkan dia, atau Bapa-Nya dalam arti yang sama seperti seorang ayah jasmani di bumi, seperti Abraham, memperanakkan seorang anak. (Ibrani 11:17) Maka, bila Alkitab menyebut Allah sebagai “Bapa” dari Yesus, ini memaksudkan tepat seperti yang dikatakannya -bahwa mereka adalah dua pribadi yang terpisah. Allah yang senior. Yesus yang yunior -dalam hal waktu atau umur, kedudukan, kuasa, dan pengetahuan.

Bila seseorang mempertimbangkan bahwa Yesus bukan satu-satunya makhluk roh, anak Allah yang diciptakan di surga, halnya menjadi jelas mengapa istilah “Anak Tunggal” atau “Anak satu-satunya yang diperanakkan” digunakan dalam hal Yesus. Tidak terhitung banyaknya makhluk roh lain yang diciptakan, malaikat-malaikat, juga disebut “anak-anak Allah,” dalam arti yang sama seperti halnya Adam, karena daya kehidupan mereka berasal dari Allah Yehuwa, Sumber Kehidupan. (Ayub 38:7; Mazmur 36:10; Lukas 3:38) Namun mereka semua diciptakan melalui “Anak Tunggal,” yang adalah pribadi satu-satunya yang langsung diperanakkan oleh Allah.-Kolose 1 :15-17.


Apakah Yesus Dianggap Allah?
MESKIPUN Yesus sering disebut Anak Allah dalam Alkitab, tidak seorang pun pada abad pertama pernah menganggap dia sebagai Allah Anak. Bahkan hantu-hantu, yang ‘percaya bahwa hanya ada satu Allah,’ mengetahui dari pengalaman mereka di alam roh bahwa Yesus bukan Allah. Maka, dengan tepat mereka menyapa Yesus sebagai “Anak Allah” yang terpisah. (Yakobus 2:19: Matius 8:29) Dan ketika Yesus mati, para prajurit Roma yang kafir itu yang sedang berjaga cukup mengetahui untuk dapat mengatakan bahwa apa yang mereka dengar dari para pengikut Yesus pasti benar, bukan bahwa Yesus adalah Allah, melainkan bahwa “sungguh, ia ini adalah Anak Allah.”-Matius 27: 54.

Maka, ungkapan “Anak Allah” menunjuk kepada Yesus sebagai makhluk yang terpisah dan diciptakan, bukan bagian dari Tritunggal. Sebagai Anak Allah, ia tidak mungkin Allah sendiri, karena Yohanes 1:18 berkata: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah.”

Murid-murid memandang Yesus sebagai ‘pengantara yang esa antara Allah dan manusia,’ bukan sebagai Allah sendiri. (1 Timotius 2:5) Karena menurut definisi seorang pengantara adalah seorang yang terpisah dari mereka yang membutuhkan pengantara, suatu kontradiksi jika Yesus adalah satu kesatuan dengan salah satu pihak yang ia coba perdamaikan. Itu berarti ia pura-pura menjadi pengantara, padahal bukan.

Alkitab memang jelas dan konsisten berkenaan hubungan antara Allah dengan Yesus. Allah Yehuwa saja Yang Mahakuasa. Ia secara langsung menciptakan pramanusia Yesus. Jadi, Yesus mempunyai permulaan dan tidak pernah dapat setara dengan Allah dalam kuasa atau kekekalan.

Sumber :
Haruskan Anda Percaya Pada Kepada Tritunggal?
©1989 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda