Kamis, 08 Januari 2009

Kristenisasi Berkedok Kawin Campur

Sepucuk surat tergeletak di meja redaksi kami, Maret lalu. Surat itu dari seberang pulau, Kalimantan Timur. Nama pengirimnya singkat saja, Dewi. Tetapi persoalan yang diadukan tak sesingkat namanya. Coba simak isi surat itu:

"Saya seorang ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami menikah 7 tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga Muslim yang taat, sementara dia pemeluk Protestan. Tapi entahlah, mungkin karena dia tak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya menjadi pacar. Saya benar-benar semakin sayang setelah dia kemudian menerima menikah dalam Islam. Saya benar-benar bahagia sekali."

"Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua, banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatakan kepada saya. `Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan.'"

"Mendengar kata-katanya, saya hampir tidak percaya. Suami saya yang tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya mengikuti jejaknya untuk datang di kebaktian.'

Saya sedang sedih dan bingung. Apa yang seharusnya saya lakukan? Apakah saya harus mempertahankan perkawinan ini? Dan apa hukumnya? Saya ingin Bapak bisa menjawab kesulitan saya".

Kisah memilukan itu tidak cuma dialami Dewi, tapi juga seorang ibu asal Palu yang datang ke kantor Suara Hidayatullah (Sahid) Surabaya, Juli lalu. Wanita berperawakan sedang ini datang bersama suaminya dengan wajah sembab. Kepada Sahid, ia menceritakan musibah yang menimpa keluarganya. Singkat cerita, sang adik diketahui hamil di luar nikah sesaat sebelum menyelesaikan gelar sarjananya. Yang membuat musibah itu terasa amat berat, pacar sang adik itu ternyata pemuda beragama lain. "Adik saya dihamili oleh pemuda Kristen," ucapnya sembari menyeka linangan air matanya. Padahal, sang adik dikenal sebagai wanita pendiam dan jarang keluar rumah. Selain itu, selama ini, dia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga Muslim yang sangat taat. Peristiwa memalukan itu memang kemudian bisa dicarikan solusinya. Singkatnya, sang adik akhirnya menikah dengan pacarnya pemuda Kristen dalam upacara Islam. Setelah itu, keduanya pindah kota yang jauh dari keluarga, di Palu. Hanya saja, kepergiannya masih tetap menyisakan luka yang mendalam bagi pihak keluarga. Terutama setelah diketahui bila sang adik telah ikut sang suami menjadi aktifis gereja bersama semua anaknya.

Kisah cinta seperti Dewi dan adik si ibu tadi bukan hal baru di negeri ini. Banyak pemuda dan pemudi pernah mengalami hal serupa. Memiliki teman dekat atau calon suami yang berbeda agama. Ujung-ujungnya, dalam banyak kasus, hubungan keduanya kemudian terhambat karena adanya perbedaan agama. Bagi yang taat pada agama, mereka memutuskan untuk berpisah. Sebagian lagi memilih kompromi, yakni memilih mengikuti salah satu dari agama yang dianut pasangannya. Pada pilihan yang terakhir inilah yang perlu diwaspadai, utamanya para gadis muslimah.

Sebab, dalam banyak pengalaman, praktek-praktek pernikahan beda agama sejauh ini merupakan lahan empuk kristenisasi. Banyak laporan di lapangan membuktikan kebenaran dugaan itu.

Sekjen Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA), Abu Deedat Syihabudin bahkan mensinyalir ada gerakan —maaf— hamilisasi sebagai metode Kristenisasi. "Banyak saya jumpai, pemuda Kristen mendekati gadis Muslimah, bahkan yang pakai jilbab. Muslimah itu selanjutnya mau menikah setelah telanjur melakukan hubungan suami istri atau hamil," tambahnya. Dengan modus seperti itu, kata Deedat, si pemuda biasanya memaksa calon istrinya masuk Kristen atau dengan berpura-pura masuk Islam.

Dr. Sanihu Munir, Direktur Yayasan Mitra Centre, sebuah yayasan yang menangani konsultasi Kristologi dan para muallaf di Sulawesi sering mendapatkan fakta serupa di wilayah Kendari. Dalam berbagai konsultasi yang banyak dia lakukan, modus operandi Kristenisasi di wilayahnya menggunakan cara seperti itu. "Pernikahan seperti itu sering dijadikan kedok untuk mengajak pasangan suami/istri menjadi Kristen," katanya.

Fakta yang cukup mencengangkan diberikan Front Bersama Umat Islam (FBUI). Lembaga nirlaba yang sangat intens mengurusi pemurtadan ini mengaku tidak kurang 45 kasus pemurtadan lewat kawin campur dalam sebulan. "Itu catatan rata-rata yang ada di kantor kami," ujar Hamdy El. Gumati (41), Ketua Divisi Khusus FBUI. Pengaduan datang dari Sumatera Barat, Padang, Lampung, Gorontalo dan Bekasi. "Itu memang modus yang paling kotor yang kita kenal," katanya pada Sahid.




Menjebol UU Perkawinan

Di Indonesia perkawinan beda agama sesungguhnya sudah diatur secara gamblang di dalam UU Perkawinan Nomor 1 Tahun l974. Pada Pasal 2 UU tersebut dikatakan, "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."

Secara tidak langsung, berdasarkan pasal tersebut perkawinan dianggap sah bila kedua pasangan menganut agama yang sama. Jika berlainan agama, dengan sendirinya perkawinan tidak dapat dilangsungkan alias dianggap batal secara hukum.

Belakangan, UU itu berusaha terus digoyang oleh kelompok-kelompok yang merasa dirugikan, terutama kelompok Nasrani. Beberapa waktu lalu sebuah kelompok mengatasnamakan `Konsorsium Untuk Catatan Sipil' melakukan kampanye untuk merivisi UU Perkawinan. Tidak itu saja, kelompok ini bahkan sudah menyiapkan draf UU Catatan Sipil untuk mensahkan perkawinan beda agama. Di dalam draf tersebut ada pasal yang mewajibkan Kantor Catatan Sipil, mencatatat perkawinan antara dua orang, meskipun mereka berbeda agama dan kepercayaan. Konsorsium memandang, Kantor Catatan Sipil bertugas untuk keperluan administrasi negara, bukan mencampuri masalah agama. "Ini bukan masalah agama tapi masalah HAM," kata Koordinator Konsorsium Soelistyowati Soegondo di Kantor Komnas HAM, Jakarta. Konsorsium ini memang tidak bekerja sendirian. Tetapi dibentuk atas kerja sama dengan Unicef (Badan PBB untuk pendidikan), dan perwakilan LSM dari dalam dan luar negeri.

Abdurrahman Wahid, tokoh NU, termasuk penentang UU Perkawinan. Gus Dur, malah memberi saran kepada calon-calon pengantin yang beda agama agar menikah di luar negeri. Baru setelah itu pulang mencatatkan di Kantor Catatan Sipil sebagai pasangan yang sah. Dan belakangan cara ini menjadi tren tersendiri, terutama oleh kalangan berduit seperti selebritis. Misalnya, pasangan Ira Wibowo dengan Katon Bagaskara, Yuni Sara, kakak penyanyi Krisdayanti. Kabarnya, kini ada 5 ribu pasangan beda agama yang antri di Singapura untuk melakukan pernikahan. Anehnya, setelah pulang ke Indonesia, pemerintah mengakui mereka sebagai pasangan suami istri yang sah. Kalau mau konsekuen, mestinya Pemerintah menangkapi mereka, lantaran melakukan zina, karena perkawinannya tidak sah.

Celakanya, media massa baik elektronik maupun cetak ikut mensosialisasikan kawin campur ini. Dalam banyak tayangan dan pemberitaan, para pelaku kawin campur digambarkan sebagai pasangan yang selalu bahagia dan harmonis. "Padahal kampanye kawin beda agama yang kini sedang disosialisasikan, sebenarnya juga (termasuk) metode kristenisasi," kata Abu Deedat.

Lebih jauh, kelompok pendukung kawin campur juga berusaha mencari pijakan teologis. Mereka menggandeng para intelektual Muslim untuk melakukan re-interpretasi ayat-ayat al-Qur'an yang melarang kawin campur. Bertemulah mereka dengan kelompok Islam Liberal (Kajian Utan Kayu) yang dipimpin Ulil Abshar Abdalla. Lewat jaringan media massa yang mereka miliki, Kajian Utan Kayu gencar mensosialisasikan kawin campur itu.

Seperti di harian Jawa Pos beberapa waktu lalu, dua kali berturut-turut ditampilkan Bimo Nugroho dan DR. Zainul Kamal, MA. Bimo adalah aktivis LSM yang Nasrani beristrikan seorang muslimah berjilbab. Lewat tokoh Bimo ini Kajian Utan Kayu seolah ingin memberikan `suri tauladan' kepada khalayak bahwa seolah semua kawin campur selalu bahagia. Zainul Kamal, dosen dari Paramadina mengatakan bahwa larangan pernikahan antara pria non Muslim dengan Muslimah, tidak ada di dalam al-Qur'an. "Teks al-Qur'an secara eksplisit tidak ada yang melarangnya. Hanya saja, mayoritas ijtihad para ulama, termasuk di Indonesia, tidak membolehkannya meski secara teks tidak ada larangan. Makanya yang membolehkan memiliki landasannya dan yang melarang juga punya landasan tertentu," katanya enteng. Terhadap pesan Surat Al Maidah ayat 5 yang isinya menghalalkan pria Muslim menikahi wanita ahlul kitab dan larangan surat Al Baqarah 221 yang bunyinya; "Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman, dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini memberi interpretasi baru. Kalau sebagian ulama mengharamkan laki-laki non Muslim menikah dengan wanita Muslim, karena dikhawatirkan istri atau anak-anaknya menjadi murtad. "Tapi kalau kita melihat kasus Mas Bimo ini, malah sebaliknya. Anak-anaknya semua ikut ibunya karena yang banyak mendidik di rumah adalah ibunya. Karenanya dalam kasus ini, ijtihad dan pendapat para ulama yang melarang wanita Muslim menikah dengan pria non Muslim perlu ditinjau ulang," ujarnya.

Larangan nikah demikian itu, menurut Zainul, juga karena kondisi sosial yang telah berubah. Menurutnya, "Dulu, dalam kondisi paternalistik Arab, suami mendominasi kuat dalam rumah tangga dan dia yang paling menentukan. Karena itu dikhawatirkan anak akan terpengaruh oleh agama bapaknya. Jangankan anak, istri saja bisa terpengaruh. Demikian kondisi sosial kultural ketika itu. Kondisi sosial kita kini, jauh berubah seperti yang dialami Mas Bimo sendiri."

Zainul juga menyangkal terhadap isi surat Al Baqarah: 221 dan Surat Al Bayyinah 1 tentang penyebutan istilah `musyrik'. Seperti yang telah banyak diketahui, surat Al Baqarah 221, bunyinya sebagai berikut; "Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman". Sedang Surat Al Bayyinah 1 berbunyi; "Orang kafir yang terdiri dari Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin (menyatakan bahwa) mereka tidak akan meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata." Dasar inilah yang kemudian dijadikan pegangan banyak orang termasuk ijma' ulama bahwa menikahi wanita dan pria musyrik sebagai hal yang diharamkan. Anehnya, menurut Zainul, orang musyrik yang dimaksudkan al- Qur'an adalah orang musyrik Makkah yang tidak percaya sama sekali akan salah satu kitab suci dan nabi.

"Orang Yahudi dan Nasrani tetap percaya kepada Nabi Ibrahim, Yusuf, Ishak dan lain sebagainya," katanya seperti dikutip koran Jawa Pos. "Mereka tidak ada bedanya dengan kita. Hanya saja, kita juga percaya pada Rosulullah SAW. Jadi Ahli Kitab tidak bisa disebut sebagai musyrik. Walaupun mereka percaya Trinitas," tambahnya.

Guru Besar dan Doktor Fiqh dari IAIN Sunan Ampel, Syechul Hadi Permono, mengaku heran kenapa masih ada yang mengutak-atik kembali sesuatu yang sudah jelas. "Bagaimana mungkin orang yang percaya bahwa Tuhan mempunyai anak dan percaya kepada Tuhan selain Allah SWT dianggap bukan musyrik," katanya kepada Sahid. "Sudah jelas kok, masih dibantah", katanya. "Tidak ada paksaan orang masuk agama. Tapi bila dia sudah masuk, dia wajib mentaati peraturannya. Kecuali dia menyatakan keluar dulu dari agama tersebut", jelas pengasuh PP. Al Hikmah, Kebonsari Surabaya ini pada Sahid. (Lebih lengkap baca rubrik Mutiara Al Qur'an)• Cholis Akbar/Nuim H Hidayatullah


Apostolos : Sekolah Tinggi Teologi Pemurtadan Umat


Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu) hingga mereka herhijrah di jalan Allah" (Q.S. An nissa 89)

Untuk memurtadkan umat islam dari agama para missionaries salibi tak bosan-bosan menciptakan jurus penghancuran islam. Setelah gagal menbawa misi GOLD GOSPEL GLORY selama 350 tahun pada masa panjajahan belanda mereka merencanakan gerakan kristenanisasi berkedok islam.

Salah satunya adalah sekolah tinggi teologi (STT) Apostolos yg beralamat di Taman Alfa Indah Blok J1/39-43 joglo, Jaksel, yg di pimpin oleh rector seorang Murtadin mantan muslim asal Palembang bernama pendeta DR.



Kemas Abubakar Masyur Yusuf Roni.

Dalam kurikulumnya disebutkan bahwa tujuan STT Apostolos adalah 'untuk menciptakan pemimpin dan pelopor gereja masa depan yang mampu "berdialog" lintas teologis dengan dunia islam'

Dalm bahasa misi kalimat itu bermakna bahwa STT Apostolos memiliki target dan tujuan Untuk mencetak para pendeta penginjil dan tokoh Kristen yg siap dan manpu menyiarkan injil secara independent kepada dunia islam dari kaum uwam, menengah, intelek sampai para ulama dan kyai sekaligus. Untuk menunjang keberhasilannya itu maka kurikulum STT Aportolos di rancang sedemikian rupa dengan studi keahlian islamologi yg tidak islami guna menciptakan pemimpin Kristen dan teolog yg independent dan mampu berkomunikasi dengan dunia islam. Lalu di ambilah orang-orang dari IAIN jakarta dengan dengan bayaran sejumlah uang teertentu sebagai tenaga dosen Program STT Apostolos ini mendapat sambutan hangat dari kalangan Kristen lainnya karena ada daya pikat tersendiri dari brosur dan iklan yg disebarkan Apostolos. Ditonjolkan disan bahwa STT Apostolos bekerja sama dengan para dosen IAIN Syarif Hidayattullah Jakarta.

Sementara dari kalangan muslim menganggap bahwa kerja sama antara dosen IAIN dengan STT Apostolos Jakarta ini sangat berbahaya . banyak kasus lapangan yg menunjukan bahwa Apostolos itu berbahaya!!! Pada bulan juli 2001 para mahasiswa Apostolos di kawal oleh para dosen IAIN melakukan tour ke pesantren-pesantren dan beberapa LSM dakwah di cirebon.

Di pesantren Daar-Al-tauhid para kyai dan santri tidak habis piker begitu selesai dialog antara mahasiswa Apostolos dengan pihak pesantren . mahasiswa Apostolos mengatakan bahwa teologi dalam islam dan Kristen itu tidak beda sama saja! Dalam Kristen mengnal tuhan itu dalam 3 oknum yaitu allah bapak allah anak dan allah roh kudus . sementara dalam islam allah itu ada 99 oknum yang di kenal Dengan 99 asmaul husna.

Begitulah kualitas berpikir mahasiswa didikan para dosen pembelot IAIN Jakarta.

Di hadapan para para tokoh islam pengurus yayasan haji karim oey Cirebon , Nurul Fajri MA.MR mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada millah ibrahim. Karuan saja para tokoh islam bertanya Tanya penyakit apa yg sedang melanda dosen IAIN sempalan iti? Bukankah ungkapan itu lebih tepat bila di sampaikan kepada umat Kristen yg nyata -nyata akidahnya menyimpang dari ajaran tauhid warisan nabi Ibrahim???

DR. Kautsar Noer sarjana asal urak awak ini mengatakan bahwa pendeta Jusuf Roni itu orang yg baik, maka dia tidak keberatan bila diajak mengajar di STT Apostolos. Karena dia bertujuan untuk berdakwah di sana. Ungkapan dosen ini pun sama sekali tidak relevan bagaimana mungkin dia bisa berdakwah di STT Apostolos yg dari awalnya saja sudah didirikan untuk mencetak pemimpin dan pelopor gerja yg mampu "berdialog" lintas teologis meluncurkan dan memurtadkan akidah islam ??

"Nanti dalam waktu yg tidak lama akan datang pada manusia suatu zaman dimana agama islam tidak tinggal kecuali hanya namanya saja .Dan tidak ada yg tinggal daripada Al quran kekecuali hanya huruf dan tulisannya saja. Masjid-masjidnya mentereng dan megah tapi sunyi dari petunjuk . Ulama mereka adalah yg paling jahat di antara yg ada di bawah langit .Dari mereka itu akan muncul bermacam-macam fitnah dan fitnah ituakan kembali kepada lingkungan mereka sendiri(umat islam) (HR Baihaqi).



MEMBONGKAR KEBOHONGAN MURTADIN PENDETA YUSUF RONI

Ngakunya dia bernama lengkap Kemas Abubakar Masyhur Jusuf Roni asli kelahiran Palembang 6 Desember 1946. kakeknya bernama kemas a. roni tokoh islam terkenal di palembang silsilah lengkapnya kemas Abubakar Mashur Jusuf roni bin Kemas M toha Roni bin Kemas A. Roni bin Kemas Nanang Abdul Halim bin Kemas Abang bin kemas Amijoko bin Demang Singojudo Wirokencono bin Daeng ario Wongso bin Tumenggung Nogowongso bin pageran Fatahillah dan seterusnya.

Masa kecilnya Jusuf Roni dididik dgn disiplin yg keras di tengah-tengah keluarga islam . maka jadilah dia seorang muslim yg fanatik ketika keluarganya pindah ke Bandung dia masuk ke pesantren YPI (yayasan pendidikan Islam) JL. Muhammad 16 Bandung yg di pimpin oleh KH. Udung Abdurrahman.

Ngakunya pula sebelumnya menjadi Kristen Jusuf Roni adalah aktifis muslim yg gigih memperjuangkan islam dalam kesempatan apapun termasuk membendung perkembangan agama Kristen di Jawa Barat buktinya dulu dia memiliki seabreg jabatan di dunia dakwah antara lain :
1. Ketua umum serikat pelajar muslim Indonesia (SEMPI) kabupaten bandung ketua 1 SEMPI wilayah jawa barat , ketua lembaga dakwah SEPMI pusat
2. Ketua serikat Pendidikan Partai syarikat islam Indonesia (PSII) bandung
3. Angota gerakan ulama syarikat islam indonesia (GUSII) wilayah jawa barat
4. Ketua seksi dakwah dan pers pemuda muslim Indonesia wilayah jawa barat
5. Angota dewan pimpinanharian daerah (DPHD) kesatuan aksi pemuda pelajar Indonesia KAPPI konsulat jawa barat
6. Pernah jadi juri MTQ tingkat nasional
7. Pernah di didik di pesantren sampai aliyah IKIP dan Universitas islam Indonesia
8. Pernah menjadi wakil sekertaris jendral organisasi islam sedunia

Namun selama beragama islam dia tidak pernah mengalami kepuasan rohani hidupnya selalu gelisah tidak tenang dan selalu diliputi oleh tanda Tanya seputar kepastian keselamatan . Dalam situasi itulah akhirnya dia terpikat oleh doktrin "keselamatan yang pasti" dalam kristus bahwa dosa manusia sudah di tebus oleh Yesus yang mati tragis di atas gantungan tiang salib.



TERNYATA BOHONG SEMUA..........BOHONG BESAR !!!

Kesaksian yang indah dan memikat itu sempat menggegerkan umat karena di tobatkan di gereja-gereja lalu kesaksian tersebut direkam dan diedarkan ke kalangan muslim di Kalimantan, Surabaya,Bandung Jakarta ,Malang dan beberapa kota besar lainnya.

Tetapi ternyata ...pendata Jusuf Roni berbohong dalam kesaksiannya . Bohongnya tak tanggung tanggung besar ...sekali..!!!

1. Berdasarkan surat keterangan dari pusat administrasi akademi IKIP bandung NO.259 P.T 25R.II 4/0/1979 tertanggal 22 Mei 1979 Jusuf Roni tidak pernah teercatat sebagai mahasiswa
IKIP Bandung
2. Surat rector universitas islam Indonesia nusantara Bandung NO.78/R-UIN/D/V91997 tertanggal 2 september 1979 Jusuf Roni pun tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa UIN Bandung
3. Surat kepala kantor direktorat jendral bina tuna warga Bandung no P.R.II.LL/D.P/2383/79 tertanggal 22 mei 1979 menyatakan bahwa Jusuf Roni sudah pernah meringkuk di penjara Banceuy Bandung dalam kasus tindak pidana jadi Jusuf Roni adalah seorang recidivist
4. Jusuf roni bukan asli palembang tapi berdarah campuran asing
5. Mustahil menjadi juri MTQ ketua lembaga dakwah wakil sekjen organisasi islam sedunia karena Jusuf Roni ternyata tidak bisa baca Alquran tidak tahu tata cara dan doa-doa shalat tidak hafal surat alfatihah.

Maka tidak heran bila akhirnya pada tanggal 19 juli 1979 pengadilan negeri Jakarta pusat memutuskan hukuman 6 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana subversi sebagaimana yg diatus dalam pasal 1(1) ke 1 sub c undang undang no. 11/PNPS/1963.

Itulah profil Jusuf Roni pendeta recidivist yg kini menjadi rector Apostolos bos nya para dosen IAIN pembelot



OKNUM DOSEN IAIN SYARIF HIDAYATTULLAH TERPERANGKAP PROGRAM KRISTENISASI

Tidak puas mengabdikan ilmukepada islam di bawah pimpinan rector muslim Prof. Dr Ayzumardi Azra beberapa dosen IAIN membelot dari almamaternya dengan label "Dosen dan alumni IAIN syarif hidayatulah Jakarta" yang di sandangnya di tega tegakan juga mencari duit dengan mendukung program kristenisasi di STT Apostolos yg di pimpin oleh murtadin YUSUF RONI seorang pendeta yg pernah mendekam 6 tahun di penjara Kalisosok Surabaya dalam kasus "pidana subveersi" pelecehan agama islam

Inilah daftar para dosen pembelot IAIN yg bekerja sama dengan murtadin Yusuf Roni untuk memuluskan gerakan pemurtadan yg di bungkus indaah dengan bahasa "Dialog Lintas Teologis " itu

1. Dr Kautsar Noer
2. Dr. Amsal Bachtiar
3. Drs. Nurul Fajri, MA,MR
4. Drs. Edi Kusnadiningrat MA
5. Drs. Ujang Tholib MA
6. Drs. Muhammad Faruki M. Ag
7. Nuryamin Aini MA
8. Dr. Mulyadhi Kartanegara
9. Kusmana MA

Pembelotan para oknum dosen IAIN jakarta itu menimbulkan kebingungan umat yg selama ini menganggap IAIN sebagai symbol keintelektualan cendikiawan muslim gara-gara ulah oknum dosen pembelot itulah akhirnya sebagian masyarakat memplesetkan IAIN dari institut agama islam negeri menjadi "'ingkar allah ingkar nabi" Barang kali pelesetan masyarakat itu ada benarnya juga kerena ulah dari delapan oknum IAIN itu membuktikan penafsiran umat yang beragam antaraa lain :

1. Delapn dosen IAIN itu berani menjual almamater IAIN untuk dipertaruhkan akidahnya antara dakwahislamiyah dan missi kristenisasi
2. Delapan dosen IAIN itu menjual kesarjanaan muslimnya untuk mendukung program krisrenisasi yg di kemas dalam bahasa "menciptakan pemimpin dan pelopor gereja masa depan yang mampu berdialog lintas teologis dengan dunia islam"
3. Ibarat pepatah "guru kencing berdiri murid kencing berlari" maka ulah dosen dosen ngawur itu bisa menciptakan para mahasiswa IAIN yg siap bekerja sama dengan pihak gereja untuk menghantam islam dengan dalih "Pluralisme Agama"

Akibat jangka panjangnya kelak bila para mahasiswa Sekolah Teologi Kristen Apostolos itu terjun ketengah-tengah masyarakat dalam rangka mewujudkan tujuan akademisnya dia akan berkata pada kaum muslim "saya dulu belajar islam kepada dosendosen IAIN jadi secara tidak langsung ilmu yang saya dapat juga sama dengan ilmu para mahasiswa IAIN" selanjutnya masyarakat awam mudah percaya kepada mereka untuk kemudian parlahan lahan ....murtad!!!

Apa daya untuk keselamataan umat maka 8 dosen pro kristenisasi itu harus diisolasi dari dunia dakwah . umat tidak butuh penjilat !!!

Sampai kapan sampai mereka tobat.

Salinan Bulletin Dakwah jum'at "ANTI MURTAD" menangkal aksi pendangkalan Akidah, diterbitkan oleh (KOPKAM) Komando Pasukan Kontra Murtad Sebar dan beri kabar pada ihkwan seiman

Disalin dari Milis SURAU Nop 2001



Siapkan Ratusan Juta Dollar untuk Hentikan Penyebaran Islam


Vatican menyiapkan dana yang cukup besar, untuk menghentikan penyebaran Islam ke seluruh dunia. Caranya, dana itu akan dibagi-bagikan ke gereja-gereja Katolik, khususnya untuk kelompok yang bertugas melakukan misi Kristenisasi.

Hal tersebut diungkap oleh koran Jerman Welt am Sonntaq, dari laporannya yang berjudul “ A Million Against Muhammad”. Laporan yang ditulis oleh Andreas Englisch itu menyebutkan, ada kecenderungan makin meningkatnya upaya untuk memutarbalikan ajaran Islam dengan menjelek-jelekkan tokoh nabi Muhammad SAW.

Selain itu, studi-studi tentang Islam dan Kristen yang dilakukan oleh Vatican, hanya sebagai kedok. Tujuan utama dari studi-studi seperti itu, sebenarnya hanya untuk memicu ketegangan antara pemeluk agama Katolik dan Islam.

Laporan tersebut juga menyebutkan, gerakan Kristenisasi ini mendapat dukungan dari dari para pengambil keputusan dan pimpinan pemerintahan negara-negara di luar vatican, untuk lebih menyebarluaskan ajaran Katolik. Mereka juga melakukan pendataan dan studi perbandingan terhadap penyebaran agama Islam dan Kristen di dunia.

Misi Kristenisasi ini, mengelola langsung sekitar 1.081 keuskupan yang melakukan kegiatannya secara rahasia, di negara-negara yang melarang adanya kegiatan agama Katolik. Diantaranya adalah negara Saudi Arabia, Yaman, China, Vietnam dan Kamboja.

Untuk mendukung kegiatan itu, mereka melatih puluhan ribu pendeta setiap tahunnya. Tahun lalu saja, misi ini mengerahkan 85.000 uskup dan pendeta, 450.000 pegawai administrasi, untuk menyiapkan sekitar 65.000 pendeta yang akan disebar ke 280 tempat di dunia.

Misi tersebut juga merekrut sekitar 1 juta orang biasa, dengan upah sekitar 30 dollar per bulan, untuk pergi ke pelosok-pelosok kota dan desa, menjalankan misi Kristenisasi dengan cara mendekati orang-orang miskin.

Misi ini juga membangun infrastruktur yang cukup besar, antara lain membangun 42.000, 1.600 rumah sakit, 6.000 pusat kesehatan dan 780 klinik untuk penderita hepatitis serta 12.000 kantor untuk menolong orang-orang miskin.

Dari sejumlah negara yang sudah disusupi misi agama Katolik ini, laporan harian Welt am Sonntag memberi contoh sekolah-sekolah Katolik di kawasan Asia dan Afrika sebagai contoh misi agama Katolik yang dinilai berhasil. Dan baru-baru ini, berdiri sekolah baru di Doha, Qatar, dengan jumlah murid 4.000 orang, dimana sepertiganya adalah orang Kristen.

Sekolah Kristen di Qatar ini, memang agak berbeda dengan sekolah-sekolah yang didirikan di negara-negara lain seperti di India misalnya, yang benar-benar bertujuan untuk mengkristenkan siswanya.

Lebih lanjut, koran Jerman Welt an Sonntag mengungkapkan, misi agama Katolik yang dibiayai Vatican ini, menyiapkan dana sekitar 500 juta dollar tiap tahunnya, untuk misi Kristenisasi atau membiayai proyek agar pemeluk agama Islam pindah ke agama Katolik. (ln/iol/eramuslim)

Paket Injil untuk Muslim

PONOROGO -- Ada yang makin aktif mengail di air keruh dengan melakukan
upaya pemurtadan saat umat Islam difitnah sebagai biang teroris. Kepala
Sekolah Menengah Atas (SMA) Bhakti Ponorogo, Jawa Timur, Agung Pramono,
pekan lalu, pun terkejut karena menerima kiriman paket sebanyak lima kardus. Isinya 500 eksemplar Alkitab (Injil).

Selain SMA Bhakti, sejumlah pondok pesantren (ponpes) dan lembaga pendidikan Islam lain di Ponorogo, ikut menerimanya. ''Paket itu dikirim orang yang tidak kami kenal. Tentu saja kami kaget setelah mengetahui isinya. Apa lagi, kami sama sekali tidak pernah merasa memesannya,'' kata Agung kepada wartawan, Selasa (3/1).

Agung menegaskan, sekolah swasta yang dipimpinnya memiliki 880 siswa plus para pengajar yang 100 persen Muslim. Menurutnya, kurir yang mengirimkan paket tersebut hanya mengatakan sekedar bantuan untuk melengkapi perpustakaan di SMA Bhakti.

Karena itu, lanjut Agung, meskipun sekolah yang dipimpinnya bukan di bawah lembaga pendidikan Islam, kitab suci umat Nasrani itu hanya disimpan dan tidak dimasukkan di perpustakaan.

Dari Lembaga Alkitab Ponpes Darul Fikri, di Desa Bringin, Kecamatan Balong, Ponorogo, menerima kiriman paket serupa sejak sebelum Ramadhan tahun lalu. ''Kami
menerima dua kardus. Satu kardus berisi 40 eksemplar Injil ukuran besar dan satu kardus lainnya berisi 100 eksemplar Injil ukuran saku,'' kata Pimpinan Ponpes, KH Ahmad Juhaini Jimin, kepada Republika, Selasa (3/1).

Di dua kardus tersebut terdapat tulisan Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesia Bible Society), Jl Salemba Raya 12, Jakarta 10430, Indonesia. Alamat pengirim ini sama dengan yang diterima SMA Bhakti akhir pekan lalu. Namun, menurut Kiai Ahmad, pengirim paket tersebut sudah sangat dikenalnya. Yaitu seorang warga keturunan, salah
satu pemilik toko di Kota Ponorogo.

''Ia memang Nasrani, kebetulan kami sering berbelanja di tokonya,'' ungkap kiai lulusan Islamic University Madinah, Arab Saudi, angkatan 1983, ini. Orang yang dimaksudnya itu sempat menanyakan keberadaan perpustaan di ponpes Darul Fikri. Setelah dijawab ada, kemudian mengirimkan paket Injil. Berdasarkan pertimbangan
para pengasuh ponpes, ratusan Injil itu 'dibekukan'. Ia mengaku khawatir,
kalau ditolak atau dikembalikan akan dibagikan ke tempat lain. Sedangkan jika dimusnahkan akan menimbulkan masalah baru.
Pegang teguh Alquran Diakuinya, beberapa guru memang ada yang membacanya
sekedar untuk perbandingan. Namun, menolak jika harus dipajang di perpustakaan. Sebab, para santrinya yang berjumlah sekitar 350 anak, dianggap masih belum
kuat memegang akidah.

Kiai yang sebelum kuliah di Madinah juga sempat nyantri di Ponpes Walisongo, Ngabar, Ponorogo, itu menduga ponpes lainnya menerima paket serupa. Soal motivasi atau misi pengirimnya, Kiai Ahmad, menyatakan tidak tahu persis. ''Mungkin ini tahap awal
pemurtadan secara halus. Wallahualam,'' ucapnya.

Paket Injil, pekan lalu, juga diterima Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sunan Ampel Ponorogo dan Institut Sunan Giri (Insuri) Ponorogo. Jumlahnya 200 eksemplar. ''Kami sempat berdialog dengan tiga kurir pengirimnya, dua dari Jakarta, satu dari Ponorogo. Paket itu sebelumnya akan dikirim ke Ponpes Darul Huda, Mayak, Tonatan, Ponorogo. Karena ditolak, dialihkan ke STAIN dan Insurit,'' jelas Ketua STAIN Ponorogo, Sugianto.

Namun, karena di STAIN ada mata kuliah Perbandingan Agama, paket Injil itu dimanfaatkannya. Sebagai pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo, Sugianto akan menindaklanjuti jika ada laporan yang meresahkan di masyarakat akibat pengiriman paket Injil tersebut. ''Kalau ada kiriman dan tidak berkenan, lebih baik ditolak. Terpenting, sebagai muslim, kita harus percaya dan memegang teguh kitab
Alquran,'' tuturnya. Misionaris asing Sementara Kantor Berita Antara kemarin melaporkan, aparat Kantor Kesbang dan Linmas Provinsi Bengkulu mempertanyakan kegiatan 13 orang misionaris asing. Mereka menjadi petani di sebuah desa dekat
Taman Hutan Raya Rojo Lelo, Bengkulu Utara, atau 14 Km arah utara kota
Bengkulu. ''Kita tengah mendalami laporan orang asing yang menjadi petaniitu. Tidak bisa seenaknya orang asing bekerja tanpa adanya izin,'' kata Kepala Kesbang Linmas Provinsi Bengkulu, Chairudin.

Bila yang dilakukan orang asing itu menyebarkan agama, sebenarnya sudah ada SKB tiga menteri yang menjelaskan tata cara penyebaran agama. Yaitu hanya diperkenankan kepada penduduk yang belum beragama (animisme/atheis.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda